Sangat setuju dengan pernyataan Pak Anies Baswedan, Menteri Dikbud saat ini, sebagaimana berita dari laman ini, bahwa alangkah baiknya jika siswa mengejakan semua tugas di sekolah, dan tidak membebaninya dengan banyak Pekerjaan Rumah (PR).
Di laman tersebut juga disampaikan bahwa saat ini banyak sekolah yang memberikan Pekerjaan Rumah (PR) kepada siswanya. Bahkan dalam sehari, siswa harus mengerjakan sejumlah PR untuk beberapa mata pelajaran.
Diakui oleh pak Menteri bahwa tidak aturan Permendikbud yang khusus mengatur tentang seberapa banyak PR yang harus diselesaikan oleh siswa. Beliau juga mengakui bahwa banyak guru yang sangat kreatif memberikan banyak PR ke siswanya. Oleh karenanya, beliau menghimbau agar seluruh tugas dapat diselesaikan di sekolah sehingga saat siswa kembali ke rumah, dapat leluasa bermain karena tugas seorang siwa selain sekolah adalah bermain. Bermain sangat berguna bagi tumbuh kembang siswatersebut.
Alhamdulillah, mendapatkan sekolah yang sesuai dengan harapan, yang berbeda dengan sekolah lainnya namun tetap mengikuti kurikulum dari Dikbud. Pola pembelajarannya dikemas menyenangkan sehingga siswa merasa tidak sedang belajar tapi sedang bermain.
Terkait dengan PR, bapak ibu guru di sekolah Raya dan Izza, memberikannya satu kali dalam beberapa minggu (biasanya hari jumat), dan menamainya dengan "Home Challenge (HC)". Di HC ini, bapak ibu guru biasanya membuat soal cerita dengan tokoh-tokoh siswa di kelas, sehingga siswa semangat mengerjakannya karena merasa terlibat dalam kegiatan cerita di HC tersebut. Satu HC merupakan rangkaian cerita tentang tema tertentu (sesuai silabi/action plan) yang memuat beberapa mata pelajaran, misalnya sedang tema cuaca, maka HC akan memuat cerita tentang cuaca dilihat dari sisi matematika, IPA, agama, bahasa Indonesia, English, dll.
Masih banyak cerita lainnya yang tak kalah mengasyikkan, seperti aqua play, home visit maupun kunjungan edukasi ke tempat-tempat tertentu sesuai tema. Salah satu kegiatan yang paling mengasyikkan buat anak-anak adalah camping atau mabit. Jika banyak ortu merasa ikut stres saat anak mau ujian, dan apalagi jika si anak tidak mau belajar. Berbeda dengan kami, kami bahkan tidak merasa jika anak-anak mau ujian karena biasanya saat beberapa hari jelang ujian, sekolah malah mengadakan kegiatan mengasyikkan di luar sekolah, salah satunya adalah camping. Saat kegiatan camping disounding sebulan sebelumnya, sebulan itu pula anak-anak semangat mempersiapkan segala sesuatunya dan menghitung hari, serta tidak sabar untuk segera mengikuti camping. Tidak ada kekhawatiran bahwa dua hari itu mereka akan menginap di tenda dan di luar rumah, yang ada mereka semangat mempersiapkan diri untuk mengikuti seluruh rangkain kegiatan yang dirancang oleh sekolah.
Semoga ikhtiar bapak ibu guru dalam merancang dan menerapkan pembelajaran yang mengasyikkan bermanfaat untuk tumbuh kembang anak-anak dan berguna untuk masa depannya. Semoga juga anak-anak memiliki kenangan yang indah di masa kecilnya, seperti patronus dalam cerita Harry Potter, ketika mengingat kenangan tersebut hati menjadi hangat.
Nah, Salah satu jejak kenangan dalam camping itu ditulis oleh Raya dan dikirimkan ke majalah Bobo. Alhamdulillah diterbitkan dalam edisi 16 Juni 2016. Selamat ya Ray....
No comments:
Post a Comment