Aku jatuh cinta dengan sepotong senja sejak dulu, sejak aku bisa memahami betapa indah ciptaan-NYA itu.
Senja itu mendamaikan, penanda garis waktu: mengakhiri siang dan menjemput malam.
Menemukan senja: merasakan angin dan cahayanya, ketentraman dan ketenangannya menyapa.
Menemukan senja dalam deretan kata di sini, seolah menemukan harta karun, pelan-pelan menikmati kata demi kata, kalimat demi kalimat dan merangkainya menjadi sesuatu yang bermakna, tiada mau berhenti atau menjadi bosan. Seperti aku dengan kopi, Raya dengan buku atau Izza dengan mobilan.
Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.
Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerakan ombak yang mendadak berubah bagai tarian. Membias diantara keunguan mega-mega, jingga yang mempesona.
Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram lautan dan seantero. Menyiram segenap perasaaan diri. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?
Terinspirasi dari cerpen "Senja untuk Pacarku" (Seno Gumira Ajidarma, 1993)
#justwriting #sorryannoying
No comments:
Post a Comment