17.3.15

Post Power Syndrome

Gara-gara sedang mencari info tentang RPP turunan ASN yang sedang digodok, aku jadi menemukan artikel ini, penjelasan tentang hak pensiun di website Menpan dan RB. 

Seiring berkurangnya umur dan bertambahnya jumlah masa kerja, mau tidak mau akan tiba saatnya menemui pensiun. Bagaimana kita mensikapinya, tergantung dengan cara pandang dan pilihan hidup yang akan dijalani nanti. Menilik dari berbagai sisi: ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya.

Pensiun identik dengan kata post power syndrome (PPS). Seolah semua yang pensiun akan mengalaminya. Menurut Monty Satiadarma, psikolog dari Universitas Tarumanegara, PPS timbul akibat adanya ketidakmampuan seseorang untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalu, khususnya yang membanggakan egonya dengan kehilangan berbagai privelege yang dimilikinya. 

Padahal menurutku, PPS itu bisa menemui siapa saja dan kapan saja saat suatu kesenangan dan kenyamanan yang biasa didapatkan mendadak hilang, bisa karena keadaan, masalah kesehatan dan sebagainya.

Sebagai contoh, akudibesarkan dalam keluarga dengan pola asuh authorian. Menurut Baumrind (1994) dalam pola asuh authorian, orang tua bersifat dominan, membuat aturan dan menerapkan serta memberlakukan kontrol yang ketat terhadap aturan tersebut. Hikmah yang diambil adalah, jika saja orang tua tidak menerapkan pola seperti itu bisa saja, jalan cerita yang aku miliki sekarang berbeda.

Nah, saat aku mulai menikah dan pindah merantau ke Jakarta (baca: Cibinong) aku merasakan dengan sangat yang namanya "kebebasan", bahkan akhirnya aku bisa naik motor sendiri setelah aku di luar jangkauan orang tua.

Nah, saat pulang kampung atau orang tua bertandang, kadang kebebasan tersebut agak terbatasi, mengingat nilai dan norma yang berlaku terhadap orangtua sebagaimana umumnya. Hal-hal yang biasa bisa dilakukan menjadi tidak semaksimalnya, dan akibat yang lainnya. Meski hanya sesaat ini PPS versi saya.

PPS versi yang lain dan terbesar adalah justru PPS orang tua. Bagaimana ortu melepasakan anaknya untuk berpisah secara geografis, nun jauh di sana. Apalagi sebagai orang Jawa, sangat kental dengan falsafah "mangan oran mangan seng penting kumpul". 

Anak-anak yang selama ini dalam dekapan, kemudia saat tiba waktunya akan menjalani kehidupannya sendiri, apa yang perlu dipersiapkan? tentu saja mental bahwa mereka harus lebih mandiri menjemput kehidupannya yang lebih baik sesuai dengan takdir hidup yang diberikan.


No comments: