“Wah… masakannya enak nih, beli dimana Mbak?” Tanya saudara yang sedang berkunjung ke rumah kepada Mbak Yik tanpa ba bi bu.
“Oh, ini ibunya Raya yang masak” Jawab mbak Yik.
“Ha....emang ibunya Raya bisa masak, tumben” kata Saudara lagi dengan ekspresi kaget dan tidak percaya.
Aku yang sedang beberes meja makan hanya tersenyum dan berkata dalam hati “belum tahu dia”
"Lumayan untuk seorang pemula" begitulah komentarnya saat mencicipi kue hasil olahanku. Terus terang aku memang tidak begitu menyukai kegiatan masak-memasak. Kalau disuruh memilih kegiatan domestik apa yang paling aku minati adalah mencuci [apalagi pakai mesin cuci :p]. Sedangkan pekerjaan paling tidak diminati adalah memasak dan menyetrika.
Ketidakbisaanku memasak sungguh menjadi pelajaran berharga. Dari pada hasil masakan amburadul, lebih baik membeli menu jadi atau menyuruh mbak Yik atau meminta bude untuk memasak sesuai menu yang diharapkan.
Untunglah aku tidak hidup di jaman di mana seorang perempuan [baca: istri] memiliki kewajiban memasak. Seperti pernah aku tulis di sini, kalau memang ada anggaran berlebih, tidak ada salahnya juga perempuan mendelegasikan pekerjaannya itu. Sekarang toh sudah banyak tempat laundry dan toko kue, perempuan merasa tidak perlu membuat kue atau menyetrika pakaian sendiri.
Waktunya perempuan bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih berkualitas. Hal-hal yang berkualitas itu bisa berbeda-beda antar perempuan. Menurut perempuan A, mencuci baju itu pekerjaan remeh temeh tetapi menurut perempuan B, itu pekerjaan mulia, karena mengerjakan sesuatu untuk keluarga terkasih dan itu merupakan salah satu wujud cinta perempuan itu terhadap keluarganya.
Aku bisa melakukan semua pekerjaan domestik itu, tetapi terus terang tidak menguasainya. Daripada aku repot membuat kue, mending aku membeli langsung kue yang sudah jadi. Waktuku bisa digunakan untuk bermain dengan bayi-bayi misalnya, atau membaca, atau menulis, dan hal-hal yang lainnya.
Tapi bagaimanpun, perempuan punya pandangan dan pendapatnya masing-masing. Yang penting adalah semua urusan domestik terselesaikan dengan baik. Perempuan itu senang dan keluarganyapun bahagia :)
Begitulah, aku memang tidak mengusai dengan baik pekerjaan domestik, terutama kegiatan masak-memasak. Keluarga kecil dan keluarga besarku mengetahui dan memahaminya. Disamping memang karakterku yang tidak menyukainya sejak awal, salah satu penyebabnya adalah [mungkin] karena ibu tidak pernah mengajariku sejak kecil.
Meskipun ibu hanya memiliki dua anak perempuan, tetapi sejak dulu kami [aku dan mbak Is] tidak pernah dilibatkan dengan urusan dapur. Ibuku biasa melakukan kegiatan memasak seorang diri atau dibantu para asisten [Yu Rus, Lek As, Lek Sariah, dll].
Untuk kegiatan memasak harian, ibu bisa dan biasa melakukannya sendiri. Sedangkan untuk kegiatan memasak spesial [hajatan, tahlilan, arisan, lebaran dll], ibu memiliki banyak pasukan yang siap sedia membantu.
Di samping itu, ibu memiliki standar tertentu yang harus dipenuhi ketika kegiatan memasak itu berlangsung, dan semua orang yang membantunya tidak berani membantah. Demi hasil masakan yang sempurna, meski misalnya sedang tidak enak badan, ibu akan menyelesaikan masakannya dengan tangannya sendiri: menguleni, menggoreng, mengukus, dll. Ibu tidak akan puas jika mendelegasikan dan hanya memberi perintah tanpa terjun langsung menangani masakannya.
Alhasil, sejak kecil, aku dan mbak Is memang jarang sekali masuk dapur. Disamping karena jarang disuruh, kami juga enggan membantu karena setiap hasil dari bantuan yang kami berikan hampir selalu dikritik oleh ibu: terlalu matang, kurang asin, terlalu manis, dll. Kritikan itu juga sering kami dapat saat disuruh belanja sayuran di pasar. Tidak ditawarlah, barangnya kurang baguslah, dll.
Aku dan mbak is akhirnya sedikit-sedikit bisa memasak karena terpaksa suatu keadaan. Sejak menikah, aku dan mbak Is mau tidak mau harus memasak untuk keluarga kecil kami masing-masing. Apalagi mbak Is, dengan ikut mertua, mau tidak mau harus mengusai berbagai pernak pernik permasakan.
Ibu juga sebenarnya demikian, bisa memasak karena suatu keadaan. Menurut cerita beliau, sejak kecil ibu juga tidak pernah dilibatkan kegiatan memasak oleh mbah Yi. [ibunya ibu ini master chef untuk kue dan makanan tradisional]. Ibu memulai kegiatan memasak sejak menikah dan pindah ke rumah mertuanya. Tetapi bedanya, meski awalnya terpaksa, ibu bisa menyenangi dan membuat kegiatan memasak menjadi hobi, bahkan menjadi master chef di keluarga besar.
Saat kami kumpul di rumah Temanggung, ibu akan membuat dan menyediakan banyak makanan. Makanan tradisional yang suka ngangeni: corobikan, mendut, cithak, lemper, sosis solo, karanggesing, jenang baning, dlimo, candhil, pethot, opor, oseng jipang, ndok kintel, urapan kuban ramban, perkedel jagung, dll. Tiap aku pulang atau ibu ke sini, pasti bawa gula aren Temanggung, sambal kacang, beras ketan, kecap, dan tak lupa bawang goreng sebagai pelengkap kegiatan masak-memasak di sini.
Beruntungnya diriku yang tidak ikut mertua setelah menikah [mengingat ibu dan mbak Is yang ikut mertua]. Begitu menikah, aku dan mas emen langsung pindah menempati kontrakan di Jogja. Mau masak, mau tidak masak, mau bersih-bersih, mau beli makanan jadi, mau malas-malasan tidak ada yang menegurku. Mas emen juga tidak memprotesku.
Bahkan sejak dulu, kami biasa melakukan pekerjaan domestik bersama-sama. Aku mencuci baju dan menyetrika, mas emen yang menyapu dan bersih-bersih. Makanan? kami biasa beli jadi, secara di Jogja banyak sekali menu makanan enak dan murah meriah. Bagaimanapun aku harus berterimakasih padanya telah menjadi suami moderat :)
Aku ingat, pertamakali aku memasak adalah saat beberapa hari setelah menikah dan tinggal di Jogja. Saat itu aku belanja sayuran di pasar depan toko Progo [sekarang masih ada tidak ya]. Hasil dari masakan itu? gagal total. Padahal cuma masak sayur bening bayam dan tempe goreng.
Di samping itu, ibu memiliki standar tertentu yang harus dipenuhi ketika kegiatan memasak itu berlangsung, dan semua orang yang membantunya tidak berani membantah. Demi hasil masakan yang sempurna, meski misalnya sedang tidak enak badan, ibu akan menyelesaikan masakannya dengan tangannya sendiri: menguleni, menggoreng, mengukus, dll. Ibu tidak akan puas jika mendelegasikan dan hanya memberi perintah tanpa terjun langsung menangani masakannya.
Alhasil, sejak kecil, aku dan mbak Is memang jarang sekali masuk dapur. Disamping karena jarang disuruh, kami juga enggan membantu karena setiap hasil dari bantuan yang kami berikan hampir selalu dikritik oleh ibu: terlalu matang, kurang asin, terlalu manis, dll. Kritikan itu juga sering kami dapat saat disuruh belanja sayuran di pasar. Tidak ditawarlah, barangnya kurang baguslah, dll.
Aku dan mbak is akhirnya sedikit-sedikit bisa memasak karena terpaksa suatu keadaan. Sejak menikah, aku dan mbak Is mau tidak mau harus memasak untuk keluarga kecil kami masing-masing. Apalagi mbak Is, dengan ikut mertua, mau tidak mau harus mengusai berbagai pernak pernik permasakan.
Ibu juga sebenarnya demikian, bisa memasak karena suatu keadaan. Menurut cerita beliau, sejak kecil ibu juga tidak pernah dilibatkan kegiatan memasak oleh mbah Yi. [ibunya ibu ini master chef untuk kue dan makanan tradisional]. Ibu memulai kegiatan memasak sejak menikah dan pindah ke rumah mertuanya. Tetapi bedanya, meski awalnya terpaksa, ibu bisa menyenangi dan membuat kegiatan memasak menjadi hobi, bahkan menjadi master chef di keluarga besar.
Saat kami kumpul di rumah Temanggung, ibu akan membuat dan menyediakan banyak makanan. Makanan tradisional yang suka ngangeni: corobikan, mendut, cithak, lemper, sosis solo, karanggesing, jenang baning, dlimo, candhil, pethot, opor, oseng jipang, ndok kintel, urapan kuban ramban, perkedel jagung, dll. Tiap aku pulang atau ibu ke sini, pasti bawa gula aren Temanggung, sambal kacang, beras ketan, kecap, dan tak lupa bawang goreng sebagai pelengkap kegiatan masak-memasak di sini.
Beruntungnya diriku yang tidak ikut mertua setelah menikah [mengingat ibu dan mbak Is yang ikut mertua]. Begitu menikah, aku dan mas emen langsung pindah menempati kontrakan di Jogja. Mau masak, mau tidak masak, mau bersih-bersih, mau beli makanan jadi, mau malas-malasan tidak ada yang menegurku. Mas emen juga tidak memprotesku.
Bahkan sejak dulu, kami biasa melakukan pekerjaan domestik bersama-sama. Aku mencuci baju dan menyetrika, mas emen yang menyapu dan bersih-bersih. Makanan? kami biasa beli jadi, secara di Jogja banyak sekali menu makanan enak dan murah meriah. Bagaimanapun aku harus berterimakasih padanya telah menjadi suami moderat :)
Aku ingat, pertamakali aku memasak adalah saat beberapa hari setelah menikah dan tinggal di Jogja. Saat itu aku belanja sayuran di pasar depan toko Progo [sekarang masih ada tidak ya]. Hasil dari masakan itu? gagal total. Padahal cuma masak sayur bening bayam dan tempe goreng.
Namun entah ada angin apa, di tahun 2011 aku pernah sangat berminat dan berniat untuk masak. Dengan bekal modal panci presto dan oven baru, rasanya bersemangat untuk mencoba berbagai masakan.
Dulu sangat tidak tertarik membeli atau membaca resep masakan. Saat ibu dan mbak Is tuker-tukeran resep, aku cuma jadi pendengar pasif. Namun saat itu, aku menjadi pembaca setia situs atau blog yang memuat resep dan tahapan memasak.
Tiap sore sempatkan belanja dan memasak. Membuat prol tape [cake tape kerennya], hari ini memasak rempelo ati presto cabe ijo, nanti sore membuat makaroni panggang. Begitu seterusnya.
Dulu sangat tidak tertarik membeli atau membaca resep masakan. Saat ibu dan mbak Is tuker-tukeran resep, aku cuma jadi pendengar pasif. Namun saat itu, aku menjadi pembaca setia situs atau blog yang memuat resep dan tahapan memasak.
Tiap sore sempatkan belanja dan memasak. Membuat prol tape [cake tape kerennya], hari ini memasak rempelo ati presto cabe ijo, nanti sore membuat makaroni panggang. Begitu seterusnya.
Memberi peralatan masak dengan kalap, semua printilannya dibeli. Bahkan pernah di suatu lebaran membuat kue kering sampai bertoples-toples. Rasanya senang saat ke mertua membawa kue buatan sendiri. Ibu mertuapun sangat kaget saat tahu aku bisa membuat kue-kue kering itu.
Nah, sekarang bagaimana?
Kembali ke asal, minat dan keinginan masak ini menguap entah kemana. Hilang tak berbekas. Tentu saja, karena tiga tahunan terakhir ini ada bude yang bisa masak apa saja, sesuai permintaan.
Betapa beruntungnya aku, hidup bersama dengan orang-orang ini: si mbak yang telaten menemani bayi2 bahkan ini sudah memasuki tahun ketujuh tinggal bersama; bude yang pintar masak dan sangat bertanggungjawab terhadap urusan dapur; pakde yang seperti handy manny: bisa membuat pernak-pernik apa saja, bisa memperbaiki barang apa saja, bahkan bisa menjahit; dan ponakan yang tidak neko-neko mengikuti pergaulan entah apa di luaran sana.
No comments:
Post a Comment