Pelayanan kereta sekarang sudah jauh membaik dibandingkan dulu. Makanya, itu mungkin salah satu pertimbangan aku diijinkan melakukan perjalanan sendiri ke luar kota oleh mas Adi, calon suamiku. Selama ini aku memang belum pernah pergi sendiri, biasanya selalu ada yang menemani, entah itu teman atau saudara.
Ya, ini kali pertama aku melakukan perjalanan solo, seorang diri. Tentu saja aku tidak menceritakan perjalanan ini kepada orang tuaku. Bisa-bisa mereka murka jika mengetahui ide gila ini. Bayangkan, dua minggu lagi aku akan menikah, mama terutama sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan resepsi pernikahan. beliau menyuruhku untuk tidak terlalu turut campur dengan segala pernak-pernik keribetan menjelang pernikahan, dengan harapan aku bisa fokus di sekolah dan pekerjaan, dan tentu saja demi menjaga kesehatan tetap fit sampai acara itu. Namun yang terjadi sebaliknya, diam-diam aku malah pergi ke keluar kota, seorang diri pula.
Awalnya mas Adi ingin menemaniku, mengingat aku belum pernah sekalipun pergi sendiri. Namun, dengan halus aku menolaknya, dan sepertinya mas Adi sangat memahamiku.
Dia mengantarku sampai stasiun. Perpisahan itupun segera terjadi, saat bunyi (semacam) peluit yang menandakan kereta telah tiba.
Mas Adi dengan enggan melepaskan tanganku dan menyuruh segera naik, pesannya: "Hati-hati selalu, jangan lupa mengabari selama di perjalanan". Kalimat itu diulang-ulang terus sejak aku memutuskan tetap melakukan perjalanan solo ini.
Dia mengantarku sampai stasiun. Perpisahan itupun segera terjadi, saat bunyi (semacam) peluit yang menandakan kereta telah tiba.
Mas Adi dengan enggan melepaskan tanganku dan menyuruh segera naik, pesannya: "Hati-hati selalu, jangan lupa mengabari selama di perjalanan". Kalimat itu diulang-ulang terus sejak aku memutuskan tetap melakukan perjalanan solo ini.
Keretapun mulai berjalan pelan. Mas Adi melambaikan tangan, senyuman menyertainya. Senyum yang seolah dipaksakan. Aku melihat matanya, ada rasa cemas di sana, namun ada juga pemakluman.
Mas Adi sangat menyukaiku, aku tahu dan paham itu. Tapi aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku. Sedih saat melihat matanya, betapa mas Adi berusaha sekuat tenaga untuk memahamiku, menungguku sampai aku siap, meskipun sampai sekarang aku merasa belum benar-benar siap.
Mas Adi sangat menyukaiku, aku tahu dan paham itu. Tapi aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku. Sedih saat melihat matanya, betapa mas Adi berusaha sekuat tenaga untuk memahamiku, menungguku sampai aku siap, meskipun sampai sekarang aku merasa belum benar-benar siap.
Aku melakukan perjalanan ini sebenarnya hanya untuk lebih menenangkan diri dan memantapkan hati, berusaha mencari jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan. Dua minggu lagi aku akan menikah dan menjadi nyonya Adi. Benarkah pilihanku ini? Benarkah aku mencintainya, memilih dan menjadikannya teman sepanjang hidupku.
Aku tidak tahu, kenapa mas Adi memilihku. Apa istimewanya aku. Sering aku menanyakannya, dan berakhir pada jawaban bahwa mas Adi jatuh cinta sejak pertama berjumpa denganku. Namun sekarang aku tidak berani lagi menanyakannya, ada ketidakberkenaan di jawabannya.
Siapa yang tidak mengenal mas Adi. Ya, Adi nugroho, seorang yang sangat capable di bidangnya juga memiliki attitude yang mempesona. Seorang intelektual sejati. Hasil risetnya dipuji banyak orang dan lembaga, karena menjadi salah satu tonggak peradaban manusia. Karyanya bertebaran di mana-mana, nasional dan global. Patennya diakui dan dibeli oleh industri serta digunakan di berbagai negara. Orang yang sangat pintar namun rendah hati, dan tentu saja luwes, mampu menempatkan diri di berbagai kalangan. Tidak ada cacat sedikitpun, he is too perfect. Aku sangat kagum dan menghormatinya, hormat sebagai junior ke senior, itu saja sepertinya, tidak lebih.
Papa dan mama langsung setuju saat mas Adi secara informal melamarku, padahal itu baru kali pertama mas Adi main ke rumah. Saat itu, tanpa memberitahu aku terlebih dahulu, mas Adi menemui mereka. Tentu saja mereka kaget mendadak ada seorang lelaki yang melamar anak gadisnya tiba-tiba. Namun, seolah tersihir dengan attitudenya yang mempesona, mereka langsung menyetujuinya meski tetap mengatakan bahwa semua keputusan tergantung padaku.
Aku tetap merasa tidak yakin. Benarkah mas Adi yang super hebat ini memilihku. Di atas kertas, kami memang sekufu: bibit, bobot dan bebet. Latar belakang yang tidak banyak berbeda, keluarga kedua belah pihakpun saling mendukung, apa lagi? entahlah, ada rasa hampa dan kosong di sudut hati.
"Maaf, aku duduk di sini" katamu sambil merapikan bagasi di atas tempat duduk kereta, dan menaruh tas ransel di situ.
Lamunanku buyar. Aku menggeser tempat duduk ke arah jendela dan melihat pandangan keluar, menaksir sampai dimana perjalanan ini. Gelap, aku tidak bisa memastikan di kota apa posisi kereta ini.
"Aku tadi kesasar ke gerbong lain, salah membaca tiket" katamu tiba-tiba seolah sedang berbicara dengan seorang temannya. Aku menengok pelan, sambil berpikir, benarkah kamu berbicara denganku. Aku mencoba tersenyum hanya sekedar basa-basi dan kembali memandang keluar jendela berniat untuk meneruskan lamunanku.
"Naik kereta itu mengasyikan, kita bisa memikirkan banyak hal, bahkan semua kenangan yang kita miliki sepanjang hidup. Bandingkan, ketika kamu naik pesawat atau moda transportasi yang lain" katamu panjang lebar.
Aku menoleh dan menggangguk, mulai berisik orang ini. Aku mengabaikannya dan kembali melempar pandangan ke luar jendela.
"Nah apa aku bilang barusan. Selamat menikmati. Mulailah menggali kenangan, tapi jangan kaget saat kamu menemukan kenangan yang sebenarnya tidak mau dikenang. Sebenarnya ada banyak hal yang meskipun berkeras untuk diingat namun seakan hanya sekedar lewat. Namun, sebaliknya, ada hal-hal lain yang terus dicoba untuk dilupakan tapi terus melekat kuat" lanjutmu lebih panjang lagi, membuatku menghentikan lamunan.
Aku mulai kehilangan kesabaran. Memanggilku dengan kamu, seolah kita sudah lama berteman.
"Bagaimana bisa Anda menyuruh saya menggali kenangan, namun Anda terus saja bersuara" kataku sedikit ketus.
Bukan permintaan maaf, tapi kamu malah tertawa keras. Aku menengok ke belakang merasa tidak enak dengan penumpang yang lain. Namun rupanya sebagian besar penumpang terlihat lelap. Maklum saja, ini memang jam nya tidur dan lampu gerbongpun sudah diredupkan.
"Bukannya aku berniat mengganggumu, bagaimanapun aku harus menyapamu, kita akan menjadi teman seperjalanan selama 15 jam ke depan. Rasanya tidak elok kalau aku tidak menyapamu terlebih dahulu. Aku bukan orang jahat, setidaknya aku belum pernah berbuat jahat pada orang lain, menurutku. Baiklah, silahkan menikmati indahnya perjalanan"
Aku melirik sebentar, melihatmu mengeluarkan gadget, menempelkan earphone ke telinga dan menyadarkan kepala di sandaran tempat duduk. Aku menggerakkan tubuhku, mencoba melihat dengan lebih jelas teman seperjalanan ini. Matamu terpejam. Di cahaya yang redup ini, aku melihat kedamaian. Aku mencoba mempercayaimu.
Akupun mengikuti tindakannya. Mengeluarkan gadget, menempelkan earphone di telinga dan memejamkan mata, mencoba tidur.
Brukkkk...Tranggggg!!!
Suara keras terdengar diikuti dengan kereta yang mendadak berhenti. Kepalaku membentur bangku bagian depan. Pun denganmu.
"Ada apa ini?" kataku panik diantara suara riuh rendah kepanikan penumpang yang lain. Banyak penumpang yang mencoba berdiri dan berniat keluar. Speaker Petugas berbunyi, menyuruh penumpang tenang. Aku mencoba tenang dan berpikir dengan jernih. Kereta tidak oleng, masih di posisi semula. hanya mungkin menabrak sesuatu.
"Aku akan mencari tahu, duduklah di sini, sambil menunggu pengumuman dari petugas" Spontan kamu berdiri dan bergegas berlari ke arah pintu keluar.
"Tapi petugas menyuruh kita tenang, duduk saja di sini" kataku cemas. Aku yakin, kamu tidak mendengar permintaanku ini. Ketakutan tiba-tba muncul. Ini kali pertama aku melakukan perjalanan dan tiba-tiba terjadi kecelakaan.
Sudah setengah jam kereta berhenti, selama itu pula kamu menghilang entah dimana. Penumpang sudah mulai jengah, mulai berteriak minta kepastikan perjalanan dari petugas. Namun pengumuman dari petugas yang ditunggu tak kunjung diperdengarkan.
Aku mulai mengetik pesan singkat, mengabarkan ke mas Adi bahwa terjadi kecelakaan di kereta yang aku tumpangi. Namun aku masih ragu, jika aku mengabarkan hal ini pasti dia akan cemas dan bisa jadi segera menyusulku. Aku masih menimbang apakah jadi mengirimkan pesan singkat ini atau menunggu pengumuman kepastian dari petugas.
"Kita harus keluar dari sini, kereta tidak bisa melanjutkan perjalanan" Katamu menggagetkanku. Aku tak langsung mempercayainya.
Namun, pengumuman petugas mempertegas bahwa kereta memang tidak bisa melanjutkan perjalanan karena ada kerusakan di gerbong masinis, penumpang diminta keluar dengan teratur.
Namun, pengumuman petugas mempertegas bahwa kereta memang tidak bisa melanjutkan perjalanan karena ada kerusakan di gerbong masinis, penumpang diminta keluar dengan teratur.
"Betul kan" katamu sambil tersenyum dan mengangkat bahu. "Aku tahu ini perjalanan pertamamu naik kereta seorang diri, tidak usah cemas, ada aku di sini yang akan menemani, jadi kamu tidak akan merasa sendiri. Kamu boleh tidak percaya sama aku, namun aku jamin aku tidak akan berbuat jahat padamu".
Aku kaget, bagaiamana kamu mengetahui perasaanku dengan tepat. Namun perasaaan lega muncul saat mendengar janjimu. Aku mengambil tas di bagasi dan mengikutimu antri keluar kereta. Begitu keluar kereta, betapa banyaknya kerumunan penumpang yang antri mengambil refund atau tiket terusan.
Tadi petugas mengumumkan, jika penumpang ingin melanjutkan perjalanan dengan kereta api diharap untuk bersabar, karena kereta pengganti baru berangkat dari stasiun pusat. Namun penumpang juga diberikan opsi lain, untuk melanjutkan perjalalanan dengan moda transportasi yang lain dan biaya tiket dikembalikan penuh.
Tadi petugas mengumumkan, jika penumpang ingin melanjutkan perjalanan dengan kereta api diharap untuk bersabar, karena kereta pengganti baru berangkat dari stasiun pusat. Namun penumpang juga diberikan opsi lain, untuk melanjutkan perjalalanan dengan moda transportasi yang lain dan biaya tiket dikembalikan penuh.
Aku termenung, bingung mau memilih opsi yang mana. Biaya bukan menjadi pertimbangan. Aku memilih moda kereta dengan maksud bisa memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang selama ini kurang mantap di hati. Tujuan bukan utama namun perjalanan ini yang aku tuju.
Aku melihatmu masih berdiri mematung. Memandang ke depan, melihat ke kerumunan penumpang di depan loket: refund dan tiket terusan.
"Kamu tidak ikut antri?, Kamu akan memilih yang mana?" Aku mencoba membuka percakapan dan terkaget sendiri saat menyadari aku memanggilnya hanya dengan kamu pada orang asing.
"Tadi sudah disampaikan, aku akan menemanimu di sisa perjalanan ini. Jadi aku menunggumu memutuskan, apapun, aku akan mengikutinya"
Reflek aku menengok, kamupun tersenyum mengiyakan. Ada rasa lega saat mengetahui bahwa aku memiliki teman seperjalanan. Aku mencoba menimbang dan menghitung opsi mana yang akan dipilih.
"Bagaimana kalau kita menunggu saja kereta pengganti. Kalau kamu setuju, kita bisa melanjutkan perjalanan bersama. Namun, kalau kamu setuju, silahkan melajutkan perjalanan dengan moda yang lain"
Kamu tersenyum, "Baiklah, aku mengikutimu. aku akan mengurus tiket terusan, kamu duduk saja di sini". Dengan sigap kamu berlari ke barisan antrian depan loket.
Aku mengikuti sarannya, mencari tempat dan duduk di pojokan yang tidak terlalu ramai dengan lalu lalang penumpang. Aku mengambil handpone, melihat draf pesan yang akan dikirim ke mas Adi. Segera ku hapus draf itu, memutuskan untuk tidak mengabari kejadian ini. Aku sudah memutuskan melakukan perjalanan sendiri. Aku harus mampu menanggung segala konsekuensi. Meskipun akhirnya memiliki teman seperjalanan, tapi itupun menjadi salah satu dari konsekuensi itu.
Melihatmu tersenyum berjalan ke arahku, akupun membalasnya, menggeser duduk dan mepersilahkan kamu untuk duduk di sampingku.
Melihatmu tersenyum berjalan ke arahku, akupun membalasnya, menggeser duduk dan mepersilahkan kamu untuk duduk di sampingku.
"Aku baru tahu namamu Dian" katamu sambil menyodorkan tiket atas namaku dan menjulurkan tanganmu untuk bersalaman,
"Namaku Rianswoko, biasa dipanggil Rian"
Aku menerima uluran tangannya dan tersenyum.
Sambil menunggu kereta pengganti datang, kamu bercerita tentang kegiatan dan maksud kedatanganmu ke kota tujuan. Seorang director rupanya. Aku sama sekali tidak menyangka ternyata kamu yang mendirect film-film keren itu. Genre filmmu memang tidak biasa, tipe festival. Pantas saja aku tidak terlalu mengenalmu. Aku sibuk dengan segala urusan, sangat jarang aku menonton film. Aku lebih senang menghabiskan waktu senggang dengan membaca novel-novel favorit atau menulis cerita. Aku mulai mengingat, sepertinya pernas membaca judul berita tentang seorang sineas muda yang memenangkan award di sebuah festival, ada namamu di sana, Rianswoko.
Saat kamu bercerita tentang serunya syuting film, aku melihat betapa cintanya kamu dengan pekerjaan ini. Passion. Tanganmu bergerak ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, bahkan menyempatkan berdiri memperagakan beberapa adegan. Aku tertawa melihat kelucuan adegan itu. Mengamatimu seksama, mencoba mengukur penampilan fisikmu. Cukup menarik, tidak tampan namun cukup nyaman untuk dilihat. Pilihan busananya khas pekerja seni, tidak terlalu rapi namun enak dipandang. Deretan gigi yang putih rapi menyempurnakan pesonamu.
Kamu tidak mencoba bertanya padaku. Siapa aku, latar belakang, pekerjaan dan tujuan di kota itu. Meski akhirnya kereta pengganti datang, dan kita kembali duduk bersebelahan, kamu tidak juga menanyakan tentang aku.
Kami sudah kehilangan rasa kantuk, tidak ada sama sekali keinginan untuk tidur. Obrolan renyah mengalir, tak ada yang perlu mengeryitkan dahi. Ceritamu terus saja ada. Membuatku membayangkan pekerjaan orang lain yang sangat jauh berbeda dengan pekerjaanku. Kadang kamu berdiri dan kembali duduk saat bercerita. Kamu sangat menjaga kesopanan, menghargai dan menghormatiku. Aku sangat menikmatinya. Menemukan teman yang nyaman di perjalanan.
"Cinta tumbuh tanpa kita mau, bahkan kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta" katamu tiba-tiba, menggeser dudukmu dan memandangku. Jantungku berdegub. Aku bingung, perasaan apa ini. Aku mencoba mengingat-ingat, sepertinya aku belum pernah merasakannya.
"Lihat mentari pagi itu" katamu sambil menunjuk sinar mentari dari ufuk timur. "Jika ada pagi yang indah, maka pagi ini adalah pagi terindah yang pernah aku saksikan. Jingga menyemburat sempurna di ufuk timur, seolah menyambut kedatangan kita dan seluruh penumpang kereta ini dengan suka cita"
"Lihatlah mentari yang belum sempurna itu, seperti lingkaran, warnanya bercampur kuning dan kemerahan. Sempurna. Aku laiknya sedang menyaksikan sebuah pertunjukan alam yang megah. Rasanya ingin terus menyimpannya tiap detik yang kusaksikan, dan ketika detik ini berakhir, aku akan memutarnya berulang-ulang"
Seolah terhipnotis, akupun tak ingin berhenti menyaksikan keindahahan dan kemegahan pertunjukan alam pagi hari. Diam, hanya kata ini yang pas untuk terus menikmatinya.
Hari pun sudah jelang pagi, mentari sudah mulai menampakkan diri. Indah. Rasanya sangat merugi jika aku melewatkan pemandangan pagi di perjalanan ini. Aku tidak menyangka ternyata kejadian kecelakaan tadi malam memberiku hikmah untuk melihat pemandangan indah sepanjang perjalanan.
"Cinta tumbuh tanpa kita mau, bahkan kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta" katamu tiba-tiba, menggeser dudukmu dan memandangku. Jantungku berdegub. Aku bingung, perasaan apa ini. Aku mencoba mengingat-ingat, sepertinya aku belum pernah merasakannya.
"Lihat mentari pagi itu" katamu sambil menunjuk sinar mentari dari ufuk timur. "Jika ada pagi yang indah, maka pagi ini adalah pagi terindah yang pernah aku saksikan. Jingga menyemburat sempurna di ufuk timur, seolah menyambut kedatangan kita dan seluruh penumpang kereta ini dengan suka cita"
"Lihatlah mentari yang belum sempurna itu, seperti lingkaran, warnanya bercampur kuning dan kemerahan. Sempurna. Aku laiknya sedang menyaksikan sebuah pertunjukan alam yang megah. Rasanya ingin terus menyimpannya tiap detik yang kusaksikan, dan ketika detik ini berakhir, aku akan memutarnya berulang-ulang"
Seolah terhipnotis, akupun tak ingin berhenti menyaksikan keindahahan dan kemegahan pertunjukan alam pagi hari. Diam, hanya kata ini yang pas untuk terus menikmatinya.
Hari pun sudah jelang pagi, mentari sudah mulai menampakkan diri. Indah. Rasanya sangat merugi jika aku melewatkan pemandangan pagi di perjalanan ini. Aku tidak menyangka ternyata kejadian kecelakaan tadi malam memberiku hikmah untuk melihat pemandangan indah sepanjang perjalanan.
Menurut jadwal, pagi ini seharusnya sudah sampai tujuan. Namun karena kecelakaan, kereta pengganti baru menempuh separo perjalanan. Aku melihat notification di handphone. Dari layar persegi, terlihat pesan mas Adi. Aku tersenyum, yang kuingat dia selalu berpesan, agar aku segera mengabarinya ketika sampai tujuan. Namun, rupanya dia tidak sabar menunggu pesanku dan mengirimkan pesan terlebih dahulu, sebelum aku mengabarinya. Aku membalas pesan itu, menceritakan kejadian semalam dan menyuruhnya untuk tidak cemas, meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Tentu saja aku tidak menceritakan tentangmu, teman seperjalanan.
Kamu berhenti bercerita. Seolah memberiku kesempatan untuk menyelesaikan urusanku. Seolah kamu menyadari kepada siapa pesan ini diikirim.
"Sudah selesai?" Aku menggangguk. "Aku akan menceritakan tentang kejadian seru lainnya saat kita syuting di pulau terpencil perbatasan Indonesia dan Malaysia" Katamu bersemangat. Aku menggangguk sekali lagi.
"Sudah selesai?" Aku menggangguk. "Aku akan menceritakan tentang kejadian seru lainnya saat kita syuting di pulau terpencil perbatasan Indonesia dan Malaysia" Katamu bersemangat. Aku menggangguk sekali lagi.
Senang sekali mendengar keseruan ceritamu. Benar-benar tidak menyangka, ternyata pengambilan suatu adegan sangat rumit. Hal-hal yang baru aku tahu. Kamu menceritakan dengan detail, dilengkapi dengan peragaan sehingga membuatku lebih mudah membayangkan adegan itu.
Kamu seorang director yang hebat. Terbukti dengan beberapa penghargaan yang telah diterima. Kamu memang tidak secara eksplisit menceritakan tentang penghargaan itu. Namun, aku tahu dari judul berita yang pernah aku baca. Diam-diam aku berdoa, semoga kesuksesan selalu menyertaimu.
Tidak terasa perjalanan hampir berakhir. Perjalanan yang seru, karena aku menemukan teman baru. Pada awalnya memang terasa kaku, namun selanjutnya aku mulai benar-benar mempercayaimu. Betapa kamu sangat sopan dan menghargaiku sebagai seorang perempuan. Aku benar-benar merasa sangat nyaman.
Kulihat beberapa penumpang bersiap diri. Ada yang membereskan barangnya, ada juga yang mulai menurunkan tas dari bagasi. Aku hanya merapikan gadget dan perlengkapannya untuk disimpan di tas. Aku melihatmu melakukan hal yang sama.
Kulihat beberapa penumpang bersiap diri. Ada yang membereskan barangnya, ada juga yang mulai menurunkan tas dari bagasi. Aku hanya merapikan gadget dan perlengkapannya untuk disimpan di tas. Aku melihatmu melakukan hal yang sama.
"Aku akan menikah dua minggu lagi" kataku tiba-tiba.
Cep!. Mendadak diam. Gesturemu menunjukkan ketidaknyaman, menjadi kaku. Tidak ada percakapan lagi. Aku dan kamu tenggelam dalam keheningan. Tiba-tiba aku merasakan dada riuh oleh detak janjtung yang tidak beraturan. Aku merasa seolah frasa yang tercipta di dunia ini tak sanggup mewakili apa yang aku rasakan.
Entah apa yang dirasakan saat ini. Hanya saja kekakuan menetas, di benakku maupun benakmu. Seakan waktu berhenti, lalu udara mulai membeku, dingin. Hening. Senyap. Diam adalah satu-satunya cara berkomunikasi saat ini.
Entah apa yang dirasakan saat ini. Hanya saja kekakuan menetas, di benakku maupun benakmu. Seakan waktu berhenti, lalu udara mulai membeku, dingin. Hening. Senyap. Diam adalah satu-satunya cara berkomunikasi saat ini.
"Tidak apa-apa kan aku menceritakan tentang diriku?" ujarku memecahkan keheningan.
"Tentu saja, itu menandakan kamu sudah mulai nyaman berteman denganku". Kamu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih yang membuatmu semakin mempesona
Diam, saling menunggu. Aku masih sungkan untuk bercerita. Kamu lebih diam lagi. Salah tingkah.
Aku menghela nafas,
"Andaikan aku tidak akan menikah dalam waktu dekat......." kalimatku menggantung.
"Aku akan melamarmu" katamu tiba-tiba.
Deg. "Kamu bercanda kan?"
"Tidak, aku serius".
Kami terdiam selama beberapa detik. Kamu menoleh, memandangku. Tatapan kami beradu. Sekian detik kami hanya saling menatap, mencoba mencari tahu hal yang dirasa di mata masing-masing. Aku menemukannya di matamu. Rasa itu. Rasa yang berbeda saat bersama mas Adi. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebelum akhirnya kami tertawa, bersama-sama. Seolah kami berhasil menemukan jawaban masing-masing.
Petugas mengumumkan bahwa perjalanan akan segera tiba di stasiun terakhir. Ada rasa tidak nyaman. Sudut hati mengatakan, pertemuan ini janganlah segera berakhir. Ya Tuhan, takdir seperti apa yang akan Engkau berikan.
Kamu bangkit dari dudukmu, "Baiklah, kita berpisah disini. Selamat menikmati perjalanan selanjutnya". sambil mengulurkan tangan kananmu. Berdiri, aku menyambutkan uluran tanganmu.
Kamu bangkit dari dudukmu, "Baiklah, kita berpisah disini. Selamat menikmati perjalanan selanjutnya". sambil mengulurkan tangan kananmu. Berdiri, aku menyambutkan uluran tanganmu.
"Terimakasih sudah menjadi teman seperjalanan"
"Aku lebih berterimakasih padamu karena telah mempercayaiku". Kamu menggenggam tanganku semakin erat, mengguncangnya semakin keras, mengalirkan hawa ketidakrelaan perpisahan ini.
"Sampai ketemu lagi"
"Sampai ketemu lagi"
Usai salam perpisahan itu, kamupun beranjak dari sisiku. Mengambil tas dan masuk ke barisan antrian penumpang yang mau keluar.
Sampai ketemu lagi, bagaimana kita akan bertemu lagi, tidak ada tukar-menukar nomor handphone. Mengalir saja, kalau memang kita ditakdirkan bertemu, maka dengan kehendak-NYA kita akan bertemu, aku sudah siap dengan takdir yang telah digariskan oleh-NYA.
Sampai ketemu lagi, bagaimana kita akan bertemu lagi, tidak ada tukar-menukar nomor handphone. Mengalir saja, kalau memang kita ditakdirkan bertemu, maka dengan kehendak-NYA kita akan bertemu, aku sudah siap dengan takdir yang telah digariskan oleh-NYA.
Bip, ada notif di handphone, sebuah pesan singkat dari mas Adi, masih serupa dengan pertanyaan tadi pagi. Aku segera menjawabnya. Dengan riang aku mengambil tas dan menuju pintu keluar. Ada rasa kelegaan, saat semua urusan dikembalikan kepada-NYA. Hidupku, takdirku semua adalah urusan-NYA.
----
Munggahan dimulai, jadi buru-buru menyelesaikan endingnya :p

No comments:
Post a Comment