Cerita yang menarik tidak harus melibatkan banyak pemeran dan karakter. Hyun Bin dan Lim Soo Jung konon tidak dibayar di film ini. Film yang berbiaya rendah ini juga tidak menampilkan dan menghadapkan peran antagonis dan protagonis.
Ceritanya sangat sederhana, dan berjalan dengan sangat lambat. Kita harus menyediakan waktu dan perhatian lebih untuk menonton drama ini agar lebih memahami makna dan maksud jalan ceritanya. Kesan inilah yang terbangun saat pertama kali menonton CSCR ini.
Cerita dimulai ketika sepasang suami istri yang sudah menikah selama lima tahun sedang bercakap di sebuah mobil yang sedang berjalan. Si istri (Lim Soo Jung) menyatakan isi hatinya dengan ragu kepada suaminya untuk berpisah darinya.
Cerita menjadi menarik saat si suami (Hyun Bin) menanggapinya dengan datar tanpa ekspresi maupun emosi yang berlebihan. Dia bahkan tidak mau tahu siapa lelaki yang membuat istrinya berpaling darinya.
Setiba di rumahnya, si suami bahkan membantu mengepak barang-barang kesayangan istrinya. Dengan sangat hati-hati si suami mengepak seperangkat alat minum teh yang biasa dipakai istrinya. Dia menyarankan istrinya untuk membawa seperangkat minum teh itu, karena dia merasa tidak akan tega memakai barang kesayangan istrinya.
Sebagian besar drama diselesaikan di dalam rumah pasangan ini. Si Suami yang berprofesi seorang arsitektur (awalnya kemudia beralih ke profesi lain) memiliki ruang kerja di underground, sedangkan si istri yang bekerja di bidang penerbitan memiliki ruang kerja di lantai paling atas. Masing-masing dengan kehidupannya.
Lewat setting dalam rumah itulah, kita, para penonton diajak menyusun puzzle untuk memahami cerita secara keseluruhan. Rumah minimalis berpagar tinggi, dengan desain yang sederhana namun multifungsi. Banyak adegan yang menyorot setting ruangan secara mendalam dan detail untuk menggambarkan bagaimana kehidupan pasangan ini. Pasangan suami istri yang mapan secara ekonomi maupun karir.
Filmnya terkesan sangat membosankan, tapi begitulah film ciri festival. Alur bercerita sangat lambat, namun dapat menceritakan segala maksud dari film ini melalui penampilan detail setting maupun penekanan pada akting pemerannya.
Cerita hanya berpusat di dalam rumah. Meskipun begitu, penonton diberi kesempatan untuk melihat romansa diantara pasangan itu: saat bagaimana si suami mengajari istri menutup pintu, bagaimana si suami membuatkan kopi untuk istrinya dan bagaimana romantisme saat si istri mengobati tangan suaminya yang kegigit kucing.
Seorang suami yang ”sempurna”, pemaaf, tidak pernah marah, selalu penuh pemakluman atas semua hal yang dilakukan oleh istrinya baik benar maupun salah, bahkan sampai si istri selingkuh pun si suami tidak marah.
Namun, aku melihat justru karena itulah si istri berniat meninggalkannya. Si istri yang kesal dan marah (yang ditandai dengan adegan istri memukul dada si suami dua kali) kenapa suami tidak marah atau meluapkan emosinya saat mengetahui istrinya selingkuh.
Aku melihat hidup mereka terlalu datar. So flat. Semua kebutuhan si istri terpenuhi semuanya bahkan untuk hal-hal kecil seperti memasak atau hanya sekedar membuat kopi. Si Suami sangat mencintai si istri dan memanjakannya sedemikian rupa yang pada akhirnya menafikan atau lebih tepatnya tidak memberikan kesempatan kepada istri untuk meduduki perannya. Ada kesenjangan komunikasi diantara keduanya.
Akting kedua tokoh Lim Soo Jung dan Hyun Bin sangat berperan, disamping sound, musik maupun setting yang ditampilkan secara detail. Meski minim dialog, keduanya berperan sangat apik. Akting keduanya dimunculkan lewat mimik dan gesture tubuh yang dapat menggambarkan jalan cerita atau maksud dan misi yang ditampilkan dalam film ini. Dua jempol untuk film ini dan terutama tokoh utamanya.
Hyun Bin yang kurus dengan rambut gondrongnya (kok jadi keingetan ayahnya Izza ya, kurus dan gondrongnya tapi..hihi) sangat tergambarkan sebagai seorang suami ”sempurna” namun datar dan cenderung"sakit". Karena tuntutan peran, HB di sini lebih mature dan terlihat lebih tua dari aslinya, tentu saja.
No comments:
Post a Comment