13.2.14

Espresso Senja

kamu menyibakkan rambut indah yang sedari tadi tak bosan-bosannya turun menutupi kacamata berbingkai tebal itu. sejurus kemudian, entah karena bosan harus menyibakkan rambut terus-menerus, kamu mengambil sesuatu dari tas yang dilampirkan di bahu kursi yang diduduki, oh...sebuah jepitan rambut berhiaskan dua kupu-kupu kecil. kamu mengaitkan jepitan itu ke rambut yang sedari tadi mengganggu aktivitasmu membaca. jepitan kupu warna emas itu sangat kontras dengan rambutmu yang hitam legam. kamu tampak sangat cantik, semakin mempesona begitu rupa.

kembali kamu terpekur dalam buku, buku tebal yang sedari tadi menemani, selain secangkir espresso tentu saja. tanggan kirimu masih menggenggam buku, sedangkan jemari lentik tangan kananmu pelan-pelan mengangkat cangkir espreso. mukamu menunduk, seolah bibir dan mulutmu tak sabar ingin segera merasakan espreso itu. oh tidak...ternyata kamu hanya mencium dan membaui harum espresso itu. matamu memejam dan bibirmu terangkat melengkung ke atas, ada rasa puas di sana. pelan-pelan kamu menyeruput espresso itu, meneguknya sekali kemudian berhenti, kamu tersenyum. 

kamu kembali menekuri buku bacaan yang sedari tadi menemani, dan secangkir kopi espresso itu tentu saja.
sebuah pemandangan indah yang aku jumpai sejak seminggu ini di sini, di kedai kopi langganan yang biasa aku datangi jelang senja. 

di senja yang kelima dan terakhir ini, aku masih beruntung menyaksikan pemandangan indah itu, karena tak akan ada senja keenam, ketujuh dan seterusnya. masih dengan formasi yang sama, selang dua meja dari tempat dudukku sekarang, masih sama, tak berbeda dari senja pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima.

aku beranjak dari tempat duduk, bergerak pelan menuju wastafel, mencuci tangan yang tak kotor sebenarnya. aku memang berpura-pura mencuci tangan dengan harapan menemukan wajahmu yang terpantul di cermin besar atas wastafel ini. ternyata memang benar, noda-noda di cermin ini seolah menghilang tergantikan dengan pemandangan indah mempesona: gadis berambut hitam legam dengan jepitan kupu-kupu dan berkaca mata dengan bingkai tebal.

waktuku tak lama lagi, esok hari aku harus segera kembali. apa yang harus aku lakukan demi bersua dengannya sekali saja, mendengarkan suaranya sekali saja, dan menatap mata indahnya sekali saja.

kamu memandang jam tangan berkulit yang melingkar di tangan kirimu. seolah tak percaya, kamu melihat kembali jam tangan itu. tiba-tiba kamu mengemasi barang-barang dengan segera, memasukkan buku dan gadgetmu dengan terburu, mengambil dompet, mengeluarkan uang kemudian menaruhnya di dekat cangkir kopi espresso yang tersisa satu tegukan, dan meninggalkan meja yang biasa kamu duduki selama lima senja ini.

aku terpekur, lama sekali, sampai senja tersibak malam. aku masih di sini, di meja selang dua dari tempat biasa kamu duduk jelang senja. mungkin benar, rasa sesal itu lebih menyakitkan ketimbang tikaman benda tajam. aku mencabik-cabik diriku yang tak sempat bersentuhan denganmu. kopi espresso dan jepitan kupu-kupu, entahlah, adakah kesempatan untuk melihatnya kembali.

Gambar diambil dari sini

No comments: