Hujan ini mengingatkanmu: sedih, dingin
dan kelabu.
Menyukai hujan yang lalu, hujan yang
membawa keceriaan bahkan kebahagiaan. Seru!
Danau, air berwarna hijau, ikan yang
segar, keriuhan pasar pagi dan pondok yang hangat. Menanak nasi dengan
keahlianmu. Mencuci segala pernik dapur dengan jari tanganmu. Menyelimuti tubuh
ini dengan selimut bercorak bunga yang masih berbau toko. Semua kenangan saat
itu, bersamamu.
Di depan pondok yang sama di waktu yang
berbeda. Pagi hari, saat matahari mulai menampakkan kehangatannya, kita duduk di tepi danau memandang perbukitan hijau diujung sana, hangat terasa di
raga. Namun dingin di jiwa, karena pertanyaan yang tiada terjawab. Segala
pertanyaan tentang perbedaan ini yang kian membentang nyata.
Saat kamu menanyakan tentang takdir nasib
yang berbeda seperti takdirnya atas dan bawah, atau utara dan selatan. Sungguh
jauh perbedaan takdir itu katamu, bagaimana menyatukannya. Sungguh sulit tiada
terkira lanjutmu setengah putus asa.
Ketika bercerita tentang passion terpapar sudah betapa perbedaan
itu sungguh kentara. Kamu mencintai pekerjaan itu, sungguh aku tidak
menyangsikannya. Betapa hidup kamu sulit di masa lalu sehingga bercita membuat
hidup ke depan menjadi lebih mudah. Bagaimana membuatnya mudah? tentu saja dengan
uang. Buatmu uang menjadi masalah sejak dulu dan bahkan sampai sekarang.
Berharap dengan uang yang banyak, membuatmu lebih mudah membahagiakan orang-orang di sekitarmu.
Citamu sungguh nyata: ingin memiliki broadcast sendiri. Demi apa? Demi mendapatkan uang yang banyak, uang-uang yang akan berguna bukan saja buatmu tapi bagi orang-orangyang bergantung padamu.
Kamu memang terbiasa dengan segala
ketidaknyamanan itu sehingga menjadikanmu lebih empati dengan orang-orang di
sekitar dengan menolong mereka dari segala kesulitannya. Semua orang
menyukai bahkan mencintaimu dengan tulus karena kamu tidak pernah membiarkan
mereka sendiri ketika kebetulan bertemu dengan ketidaknyamanan hidup. Respek
terhadapmu terlihat nyata, bukan hanya dari keluarga maupun teman terdekat,
namun juga dari kolega terhebat.
Berbeda denganku, aku menyukai pekerjaan
ini karena aku memang menyukainya. Ketika sedang mengerjakannya seolah aku
sedang bermain-main, seperti seorang anak perempuan yang asyik bermain dengan
bonekanya. Ringan, renyah tanpa perjuangan yang berarti. Hidup bagiku sangat
datar, bermain dan bermain tanpa ada hambatan yang berarti yang berujung pada
ketumpulan empati pada sesama. Aku lebih sering meratapi kesedihan kesendirian
tanpa peduli dengan orang-orang yang mencoba peduli denganku.
Hitam dan putih, sungguh kontras perbedaan
itu. Kalau saja kita mampu mencampurnya menjadi abu-abu, mungkin akan lebih
berwarna meski tidak semeriah merah, biru, hijau dan kuning seperti
indahnya pelangi di akhir hujan.
Tapi kamu memutuskan untuk menyerah. Aku
sungguh menyesalinya. Sebegitu saja. Bagaimana dengan keinginanmu untuk meraih
peduli ibuku, yang berujung pada restu. Omong kosong. Aku menjadi marah teramat
sangat terhadapmu. Kamu tidak seperi kamu. Kamu seperti orang lain lain yang
tunduk dan patuh dengan segala hambatan dan kesulitan, menyerah begitu saja.
Aku ingat saat itu, saat kita berdua
berjalan di tepi danau bercerita tentang cita-cita. Akhir cita adalah
mendapatkan restu ibu: "Aku ingin ibumu menyukaiku". Kata yang
sederhana namun sungguh bersarat makna. Aku tertegun sampai langkah terhenti.
teramat terharu dengan citamu. Tapi akhirnya berujung pilu, karena ego tidak
terpadu.
Kamu, ya, kamu yang sangat menyukaiku namun memutuskan
menyerah karena perbedaan yang membentang nyata. Kamu yang beralih selalu
berargue denganku, kamu kemudian selalu mengkritikku dengan harapan
perasaan ini menjadi pudar. Tapi jangan salah, perasaan ini masih tetap sama
dan akan tetap sama meski kamu berpindah tempat, bukan di sisi tapi di depanku,
menjadi rival.
Kadang aku melihat dari matamu, mata yang
tidak mampu berbohong bahwa kamu sungguh tersiksa dengan segala sandiwara ini. Drama is drama. Selalu begitu
katamu. Padahal aku tahu, drama itu bercerita tentang pengejawantahan dirimu.
Hujan kembali membasahi hari-hari terakhir
ini. Semakin kesini hujan semakin sering turun, menjadikan hari semakin dingin
dan kelabu. Entah bagaimana dengan harimu? Apakah juga terbasahi oleh hujan,
dan menjadi dingin dan kelabu karenanya?
---
Sepuluh tahun yang lalu,
Rumput hijau terhampar di depan mata,
warna-warni bunga sepatu bermekaran, bunga putih berguguran dari pohon yang
berjajar semakin memperindah sudut, gedung tua klasik yang semakin memukau saat
senja. Tetes demi tetes air hujan yang turun menyempurnakan suasana. Takjub.
Betapa indah kampus ini.
Aku bisa melihatmu sedang berlatih menjadi
seorang director, di halaman indoor gedung yang diarsiteki oleh seorang Belanda
itu. Dalam hati, aku meyakini suatu saat entah nanti kamu pasti akan menjadi
seorang director hebat, karena kamu melalui semua tahapan belajar ini dengan
hati, penuh makna. aku tahu itu passion.
Senyummu mengembang saat melihatku duduk
di sudut. Lambaian tangan dan senyummu sudah cukup menyempurnakan senjaku. Saat
itu aku memaknai sebuah bahagia. Hangat terasa.
---
Sepuluh tahun kemudian,
Kamu menjadi seorang director yang hebat.
Drama seri yang kamu sutradai selalu mendapat rating bagus. Seorang director
yang hebat pasti didukung oleh crew yang hebat, tentu saja.
Kamu menjadikan seluruh crew selayaknya sebuah keluarga. Semua crew mempercayaimu sepenuh hati, menyerahkan akan dibawa kemana drama-drama itu. Meski begitu kamu selalu membuka diskusi, tanpa perdebatan yang berarti, kamu bisa mengakomodir semua hal yang dipertanyakan. Aku sungguh mengacungi jempol untukmu untuk hal yang satu ini.
Kamu menjadikan seluruh crew selayaknya sebuah keluarga. Semua crew mempercayaimu sepenuh hati, menyerahkan akan dibawa kemana drama-drama itu. Meski begitu kamu selalu membuka diskusi, tanpa perdebatan yang berarti, kamu bisa mengakomodir semua hal yang dipertanyakan. Aku sungguh mengacungi jempol untukmu untuk hal yang satu ini.
Tapi sekarang. senja tetaplah senja tanpa ada harapan menemui fajar meski sudah menjelang. Sungguh aku kecewa.
Entah bagaimana hujanmu sekarang. Hujanku sekarang masih sedih, dingin dan kelabu.
Bersambung...
------
------
*Gara-gara hujan di luar sana & efek ost
World Within nya Hyun Bin :)
No comments:
Post a Comment