Nah, aku menemukan artikel menarik dari Kompas di kolom Tekno 2 Nop 2011, ternyata para petinggi di Lembah Silicon enggan menyekolahkan anaknya ke sekolah digital yang memasukkan pendidikan komputer ke dalam kurikulum dan memasok komputer dalam jumlah besar. Mereka lebih senang menyekolahkan anaknya ke Waldorf School of The Peninsula, sekolah yang tidak memiliki komputer sama sekali.
Di sekolah Waldorf tidak akan ditemukan satu layar komputer pun. Para pendidik dan orangtua percaya bahwa pendidikan dan teknologi tidak bisa dicampuradukkan. Para pendidik di sekolah Waldorf percaya bahwa komputer menghambat pemikiran dan gerakan kreatif anak, serta mengurangi interaksi antarmanusia secara langsung.
"Saya secara fundamental menolak gagasan bahwa pendidikan pada sekolah dasar membutuhkan alat bantu teknologi. Ide bahwa iPad dapat mengajarkan anak-anak saya membaca dan melakukan aritmatika itu konyol," jelas Alan Eagle (50) -yang memegang gelar Ilmu Komputer dari Dartmouth dan bekerja sebagai Communication Executive di Google Inc- salah satu orangtua murid yang menyekolahkan putrinya di sekolah Waldorf.
"Saya secara fundamental menolak gagasan bahwa pendidikan pada sekolah dasar membutuhkan alat bantu teknologi. Ide bahwa iPad dapat mengajarkan anak-anak saya membaca dan melakukan aritmatika itu konyol," jelas Alan Eagle (50) -yang memegang gelar Ilmu Komputer dari Dartmouth dan bekerja sebagai Communication Executive di Google Inc- salah satu orangtua murid yang menyekolahkan putrinya di sekolah Waldorf.
Eagle menambahkan, tiga per empat siswa di sekolah ini memiliki orangtua dengan koneksi teknologi yang kuat. Ia melihat tidak ada kontradiksi dengan memilih menyekolahkan anaknya di sekolah tanpa teknologi. Sementara sekolah lain memenuhi ruang kelas dengan kabel, sekolah ini justru hanya berhiaskan papan tulis dengan kapur warna-warni, rak buku ensiklopedi, meja kayu penuh workbook, dan pensil-pensil.
Sekolah Waldorf mengajarkan anak-anak kelas lima untuk melakukan keterampilan merajut, membuat kain, sampai membuat kaus kaki. Anak-anak juga diajari berhitung dengan cara-cara unik, seperti memotong buah menjadi beberapa bagian dan kegiatan lainnya yang menuntut kreativitas guru dan siswa.

"Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi adalah gangguan ketika kita perlu melakukan studi literatur, berhitung, dan berpikir kritis," ujar Paul Thomas, seorang guru dan profesor pendidikan di Furman University.
Beberapa ahli pendidikan mengatakan, dorongan untuk melengkapi ruang kelas dengan komputer adalah tidak beralasan karena belum ada studi yang menyatakan bahwa teknologi membuat anak-anak di sekolah dasar lebih cepat mengalami perkembangan kreativitas. Namun, apakah belajar merajut dan belajar pecahan melalui potongan kue atau buah adalah alternatif yang lebih baik, juga belum dipastikan secara ilmiah.

"Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi adalah gangguan ketika kita perlu melakukan studi literatur, berhitung, dan berpikir kritis," ujar Paul Thomas, seorang guru dan profesor pendidikan di Furman University.Beberapa ahli pendidikan mengatakan, dorongan untuk melengkapi ruang kelas dengan komputer adalah tidak beralasan karena belum ada studi yang menyatakan bahwa teknologi membuat anak-anak di sekolah dasar lebih cepat mengalami perkembangan kreativitas. Namun, apakah belajar merajut dan belajar pecahan melalui potongan kue atau buah adalah alternatif yang lebih baik, juga belum dipastikan secara ilmiah.
Paling tidak, sekolah Waldorf bisa membuktikan bahwa 94 persen lulusan sekolah mereka banyak yang sukses di perguruan tinggi terkenal, seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar. Alumni tersebut adalah yang lulus antara tahun 1994 hingga 2004.
Saat ini, ketika aku ingin mengetahui suatu informasi, aku akan menulis sejumlah keywords di mesin pencari. Dan taaddaa semua informasi yang aku butuhkan akan aku dapatkan dengan mudahnya, mulai dari sekilas info/berita dari koran online sampai abstrak maupun fulltext. Alhasil aku lebih senang duduk di depan kompi daripada datang ke perpustakaan mendalami semua buku yang terkait dengan tema yang aku butuhkan.
Dengan teknologi mesin pencari seperti sekarang, kita akan sangat mudah mendapatkan semua informasi yang kita cari. Kita mengetahui banyak hal, namun tidak mendalam.
Bagaimana dengan anak sekolah? Aku menduganya, mereka juga akan melakukan hal yang sama ketika mendapatkan tugas dari gurunya mengenai suatu tema tertentu. Mereka akan langsung membuka dekstop, laptop, netbook, tablet atau bahkan handphone mereka dan menuliskan sejumlah keywords di mesin pencarinya. Aku menduga, perpustakaan akan semakin sepi pengunjung. CMIIW. Pun, siswa akan cenderung malas bertanya kepada guru atau ortu mereka dan hanya mengandalkan mesin pencari. (imagine with Raya & Izza's world next)
No no no bukan aku menentang kemajuan IT. Justru dengan adanya kemajuan iptek ini kita semakin termudahkan dalam akses mendapatkan informasi. Apalagi dengan semangat lingkungan, buku beralih paperless menjadi e-book, e-journal, dll. Mungkin di masa depan kita tidak perlu lagi membawa setupuk buku atau jurnal. Kita dapat pergi kemanapun hanya dengan sebuah tablet yang memuat begitu banyak informasi yang setiap saat kita butuhkan.
Hanya mungkin sekarang lebih ditekankan dan ditingkatkan lagi semangat gemar membaca, membaca apa aja baik buku maupun e-book. (terutama untuk diriku yang sedang sangat menurun semangat dan interest membaca)
Sitasi dari: http://tekno.kompas.com/read/2011/11/02/0646310/Sekolah.Tanpa.Komputer.Disukai.Petinggi.Silicon.Valley
Foto di ambil dari Sekolah Alam Al Amien Bojonggede. http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=100000692209534

1 comment:
mgkn lebih baik kalo digiatkan GSM mba .. Gerakan Sadar Membaca
Post a Comment