18.3.11

Bawaan Orok

Pernah denger kata bawaan orok? pasti pernah ya.
Sebagai tambahan mungkin bisa diilustrasikan dengan cerita berikut:
"Si A itu kalau makan mulutnya selalu terbuka dan berbunyi cap-cap. Sudah kita bilangin bahwa hal tersebut tidak (terlalu) baik menurut azas kesopanan. Tetapi tetap saja kebiasaan tersebut susah untuk dihilangkan. Habis, bawaan orok sih"

"Tahu tidak kalau si B tadi habis dimarahin sama si bos? Wajarlah dimarahin, soalnya dia selalu telat mengerjakan sesuatu, sehingga hampir dan bahkan melanggar waktu deadline. Gimana tidak telat, dia mengerjakan semua pekerjaan yang harusnya dikerjakan sama tim. Dia memang perfectionist, tidak mau mendelegasikan pekerjaan itu karena tidak percaya sama orang lain. Jadi A-Z pekerjakan itu dia kerjakan sendiri mati-matin. Ampun deh, tapi mau bagaimana lagi, susah untuk diubah, mungkin karena bawaan orok"

"Meski sudah gadis, tapi Si C kalau tidur harus selalu ditemani oleh bonekanya. Boneka itu telah menemaninya sejak si C kecil. Di manapun, kapanpun si C akan tidur dengan bonekanya itu. Kalau tidak, si C tidak akan bisa tidur, kalaupun bisa, tidurnya dipastikan tidak akan nyenyak"

"Oya, bagaimana dengan urang Sunda yang (agak) susah membedakan pengucapan F dan P? Apakah ini termasuk bawaan orok?" :D

Bawaan orok seringkali berkonotasi negatif, padahal ada juga beberapa yang positif mendukung perkembangan seseorang, misalnya terlalu rajin dan cenderung perfectionist seperti cerita di atas. Namun begitu, kebiasaan yang 'terlalu', bagaimanapun tidak baik, yang sewajarnya saja sesuai dengan kadar kelaziman. Kebiasaan yang cenderung ke arah posistif meski itu 'terlalu'. kalau dapat dikelola dengan baik akan menghasilkan suatu yang baik pula.

Raya dan Izza juga memiliki kebiasaan itu. Menjelang tidur, Raya akan mencari siku tangan (bahasa Jawa: sikut) siapapun yang menidurkannya (baca: ngeloni) entah itu ibunya, ayahnya atau mbaknya. Kalau dia tidak menemukan siku orang lain -karena tidurnya tidak ditemani- dia akan mengelus dan mengusap-usap perutnya sendiri. Tangan kanan mengusap perut, tangan kiri memegangi botol susunya begitu pula sebaiknya.

Begitu juga dengan Izza. Dia akan mencari perut orang yang menidurkannya atau menemaninya minum susu (baca: ngedot). Sama juga dengan raya, Izza mencari perut ibunya, ayahnya atau mbaknya. Dan kalau dia tidak menemukan perut orang lain, dia akan mengusap-usap perutnya sendiri.

Yang membedakan adalah kebiasaan itu dilakukan Raya sambil tiduran, orang yang menemaninyapun harus melakukan demikian, tiduran maksudnya. Sedangkan Izza, kebiasaannya bisa dilakukan baik dengan tiduran, dipangku atau duduk sendiri, baik di kasur menjelang tidur atau dipangku saat nonton tivi bahkan saat dipangku di mobil. Tangannya pasti akan meraba-raba mencari perut orang yang menemaninya.

Waktu aku kecil juga memiliki kebiasaaan yang sama. Ketika aku akan tidur pasti aku akan mencari leher ibu. Kalau posisi tidur tidak memungkinkan, aku akan memegang telapak tangan ibu. Leher dan tangan ibu selalu terasa hangat, sehingga aku merasakan kenyamanan dan kehangatan ibu. Perasaan aman yang sangat.

Namun, kebiasaanku itu berkurang sejak aku pisah tidur sama ibu dan benar-benar menghilang sejak aku kost di Jogja. Jadi, aku berharap kebiasaan yang sering dilakukan Raya dan Izza akan berkurang dan menghilang seiring dengan tumbuh kembangnya mereka :D

Gambar diambil dari sini

No comments: