25.8.10

Tradisi Mudik

Istilah
Mudik sebenarnya berasal dari kata UDIK yang artinya adalah DESA. Sehingga mudik adalah Menuju ke DESA atau pulang ke Desa.

Mudik menurut KBBI adalah
1 (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman): dr Palembang -- sampai ke Sakayu;
2 cak pulang ke kampung halaman: seminggu menjelang Lebaran sudah banyak orang yg --;
pe·mu·dik n orang yg pulang ke kampung halaman (udik): sekitar 80% - ke Yogyakarta adalah orang Wonosobo;

Sedangkan mudik menurut Kamus Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta (1976) adalah pulang ke udik atau pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya hari lebaran.

Asal-usul
Umar Kayam (2002) menyebutkan bahwa mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani jawa. Keberadaannya jauh sebelum Kerajaan Majapahit.

Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan disertai doa bersama kepada dewa-dewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tidak diselimuti masalah.

Namun, masuknya pengaruh Islam ke Tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis, karena dianggap perbuatan syirik. Meski begitu, pulang kembali ke kampung halaman setahun sekali ini muncul lewat momen Idul Fitri.

Ya, fenomena ini biasa terjadi setiap menjelang lebaran, atau libur-libur panjang. Mudik merupakan potret dialektika budaya yang sudah berlangsung berabad-abad.

Said Aqiel Siradj menempatkannya dalam konteks keberagamaan: kembali ke fitrah sebagai upaya kesalehan yang bersifat spiritualvertikal yang konkret, dimaknai lewat jalan kesalehan sosio-horizontal. Silaturahim menjadi sarana sekaligus hasil.

Alasan Mudik
Namun, meskipun kini, teknologi semakin maju. Sudah ada handphone, internet, hingga teleconference yang memudahkan komunikasi dari jarak jauh serta biaya yang sudah terjangkau, masyarakat merasa bahwa tradisi mudik tetap tidak tergantikan.

Menurut Sosiolog UGM Arie Sudjito, ada beberapa hal yang menyebabkan teknologi tidak bisa menggantikan tradisi mudik. Salah satunya, disebabkan teknologi tersebut belum menjadi bagian dari budaya yang mendasar di Indonesia, terutama pada masyarakat pedesaan. Setidaknya ada 4 hal yang menjadi tujuan orang untuk melakukan mudik dan sulit digantikan oleh teknologi:
1. Mencari berkah dengan bersilaturahmi dengan orangtua, kerabat, dan tetangga.
2. Terapi psikologis. Kebanyakan perantau yang bekerja di kota besar memanfaatkan momen lebaran untuk refreshing dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Sehingga ketika kembali bekerja, kondisi sudah fresh lagi.
3. Mengingat asal usul. Banyak perantau yang sudah memiliki keturunan, sehingga dengan mudik bisa mengenalkan mengenai asal-usul mereka.
4. Unjuk diri. Banyak para perantau yang menjadikan mudik sebagai ajang unjuk diri sebagai orang yang telah berhasil mengadu nasib di kota besar.

Sedangkan menurut Syahrul Salam (pengajar di FISIP UPN Veteran Jakarta), ada banyak fakta dan alasan orang-orang melakukan mudik Lebaran. Yang paling sering terdengar tentu saja adalah bersilaturrahim dengan orang tua, keluarga, sanak saudara, karib-kerabat, dan lainnya. Bersilaturrahim inilah yang dianggap 'mahal' oleh mereka yang menganggap diri orang kota, orang daerah yang telah berhijrah ke kota-kota besar, terutama Jakarta.

Arti silaturrahim juga bagian dari upaya mendapat pengakuan dengan menunjukkan eksistensi dan jati diri 'menjadi bagian dari orang kota' yang mungkin telah dinilai sukses dan berhasil selama di kota. Karenanya momen mudik bisa jadi momen bersayap, berpulang untuk berbagi dalam bingkai silaturrahim.

Bersilaturrahim dalam konteks ini dapat mencapai kepuasan oase dari keterasingan dan tingginya nilai individual masyarakat perkotaan. Penerimaan orang kampung, sambutan serta kembali berseminya romantisme kesejarahan kehidupan pelaku mudik di kampungnya sendiri semakin memperkuat arti dan makna mudik Lebaran.

Lebih lanjut, tentu patut menjadi ajang koreksi internal ketika mudik Lebaran dijadikan semata-mata untuk tujuan pragmatisme individual dengan tradisi show off. Niat mudik tak jarang juga dilabeli dengan muatan menunjukkan jati diri dan status sosial pemudik saat ini.

Prestasi sosial, posisi, jabatan, gelar, kendaraan, harta, dan label materi lainnya tak jarang ikut hadir sebagai bagian dari 'penumpang niat' yang turut memperkuat alasan mengapa harus mudik. Inilah upaya pengakuan eksistensi yang barang kali jarang atau bahkan belum didapatkan di kota, tempat semua label materialisme-hedon ini dipertontonkan secara vulgar dan masiv.

Tradisi Mudik Vs Tradisi Kenabian
Thus, kesempatan mudik Lebaran tahun ini pun, sebagaimana pengulangan tahun-tahun sebelumnya dilakukan setidaknya semenjak H-7 Lebaran dan akan mencapai puncak pada H-3. Pada H-7 hingga H-1, dalam kitab suci dan tradisi Nabi, justru dijadikan episentrum Ramadhan. Kemulyaan, keberkahan Ramdahan terkonsentrasi semenjak sepuluh hari terakhir, hari dan waktu di mana jutaan umat muslim di Indonesia menyibukkan diri dengan aktivitas mudik dan embelannya, berbelanja.

Inilah proses dan 'tradisi' yang sulit untuk dijelaskan yakni menghubungan tradisi kenabian di akhir Ramadhan dengan praktek mudik Lebaran. Berbelanja dan mudik adalah aktivitas yang terkadang 'mengganggu' khidmatnya the last ten days of Ramadhan.

Memang di dalam ajaran Islam, tradisi mudik tidak dikenal. Usai melaksanakan puasa selama sebulan penuh, umat Islam hanya diperintahkan mengeluarkan zakat fitrah dan melaksanakan salat Ied, serta melarang berpuasa di hari pertama dan kedua Idul Fitri.

Ada beberapa teman yang melakukan mudik sebelum Ramadhan atau sebulan setelah Syawal. menurut mereka: "Bukannya seharusnya memang kita minta maaf ke orang tua dan sanak saudara sebelum Ramadhan?, agar kita lebih bersih dalam menjalankan puasa?, kenapa malah mengorbankan 10 hari terakhir ramadhan yang sangat istimewa itu?". "Jadi, ngapain repot-repot mudik saat jalanan macet, harga tiket melambung, dan berbagai kerepotan lainnya?"

Tetapi, ada juga yang menafsirkan arti dari Idul Fitri yaitu kembali ke fitrah sebagai kembali kepada asal muasal. Setelah sebulan penuh berpuasa, dengan bermaaf-maafan berharap kita akan menjadi lebih fitrah, seperti bayi yang baru saja dilahirkan.

Pelurusan Niat

Pelurusan niat amat penting diperkuat di hati sanubari, setidaknya untuk menghadirkan makna dan esensi mudik, memperkuat ibadah, menenangkan hati, dan terajutnya ikatan silaturrahim. Dengan demikian, antara mudik dan perintah agama dapat diselaraskan, tradisi kenabian dapat dilakukan.

Aku sebagai salah satu pemudik tentu harus sangat meluruskan niat serta menghadirkan makna dan esensi mudik. bagimanapun, mudik belum tergantikan. mudikku ke kampung tentu saja bukan karena tujuan pragmatisme individual seperti tradisi show off [apa juga yang mau di show off kan ya] tetapi lebih pada pengabdian seorang anak kepada orang tuanya.

Ya, tujuanku mudik adalah bakti kepada orangtua. kehadiranku menjadi sangat dibutuhkan oleh mereka. Mereka dapat bertemu dan berkumpul dengan anak dan cucu-cucunya meski hanya beberapa hari saja dan itu sudah sangat membuat mereka bahagia.

Sehari-hari aku sudah tidak dapat bersanding di sisi orangtua karena berbagai hal: tuntutan pekerjaan, mengikuti suami dll. Alangkah tidak eloknya aku ketika lebaran tidak mudik untuk bertemu ibu. Membayangkan bagaimana perasaan ibu melihat keluarga-keluarga lain tengah berkumpul sedangkan keluarganya tidak. Duh, pasti menyedihkan sekali.

Mindsetting ini mungkin akan berubah saat misalnya orangtua sudah tiada, sehingga tidak ada lagi orang yang akan disungkemi. Let we see...

Jadi, mari kita tetap melakukan mudik lebaran tahun ini meskipun tidak mendapatkan dukungan dari MenPAN yang tidak memperbolehkan cuti tahunan diambil setelah cuti bersama [cuti lebaran] melalui surat edarannya.

sumber bacaan:

http://www.inilah.com dan http://news.okezone.com,

gambar dari sini

No comments: