Ditulis Oleh: Ega Julaeha
Tentang (memahami) Hidup
Saya pikir menjalani hidup itu laksana hiking ke atas gunung, menuju puncak, tujuan, yang diyakini merupakan batas teratas pencapaian. Untuk mencapai puncak, manusia dibekali oleh Tuhan berbagai alternatif pilihan jalan. Ada jalan landai, jalan setengah menanjak, jalan terjal, jalan berliku, jalan bebatuan, jalan menurun, dan banyak pilihan lainnya. Dalam menjalani “hiking” ke puncak kehidupan pun manusia tidak dibiarkan Tuhan menghadapi yang mulus-mulus saja, disediakan berbagai rintangan penghalang. Banyak manusia menganggap rintangan sebagai halangan, tapi tak sedikit juga yang menghargainya sebagai tantangan, “batu loncatan” untuk di langkahi demi diteruskannya perjalanan.
Tentang (memahami) Hidup
Saya pikir menjalani hidup itu laksana hiking ke atas gunung, menuju puncak, tujuan, yang diyakini merupakan batas teratas pencapaian. Untuk mencapai puncak, manusia dibekali oleh Tuhan berbagai alternatif pilihan jalan. Ada jalan landai, jalan setengah menanjak, jalan terjal, jalan berliku, jalan bebatuan, jalan menurun, dan banyak pilihan lainnya. Dalam menjalani “hiking” ke puncak kehidupan pun manusia tidak dibiarkan Tuhan menghadapi yang mulus-mulus saja, disediakan berbagai rintangan penghalang. Banyak manusia menganggap rintangan sebagai halangan, tapi tak sedikit juga yang menghargainya sebagai tantangan, “batu loncatan” untuk di langkahi demi diteruskannya perjalanan.
Saya yakini bahwa hidup ini adalah takdir, sudah digariskan segala sesuatunya, terutama untuk 3 perkara rezeki, jodoh, dan maut. Namun saya pun yakin, Tuhan kasih kebebasan penuh kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya sendiri dengan dibekaliNYA hati nurani dan akal pikiran.
Untuk sebagian orang hidup itu dirasakan sangat keras, dan pula datar untuk sebagian yang lain. istilah “Hidup itu keras” hanya cocok dan dapat dimengerti oleh manusia yang telah atau sedang merasakan kerasnya hidup. begitu pula sebaliknya, ada sebagian manusia yang merasakan hidup itu datar tak ada rintangan, flat.
KERASNYA HIDUP
Pertanyaannya kemudian, kerasnya hidup itu yang seperti apa?. Pertanyaan seperti ini tentu saja berjodoh dengan banyak jawaban. Susah kalau hanya mencoba mendefinisikan atau mencocokkan jawaban, semuanya relatif.
Bagi kamu yang telah dipaksa berkelahi dengan waktu, berjuang mencari sesuap nasi di umurmu yang baru merangkak, kamu akan temukan jawaban untuk pertanyaan di atas. Kerasnya hidup di kala kamu harus berjibaku dengan keadaan ketika teman sebayamu yang lain sedang menikmati masa “bersekolahnya”, bermain, dan bersenda gurau dengan personil lengkap sanak familinya. pernah dengar lagu Iwan Fals?, liriknya bilang:“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal”. Ya seperti itulah kerasnya hidup bagi golongan ini.
Bagi kamu yang lain, yang dihadapkan pada kenyataan harus menjanda dengan 2,3,4, dan banyak buntut (baca:anak) yang harus dinafkahi misalnya, harus berjuang di tengah keterbatasan, mencari nafkah untuk kehidupan yang lebih baik bagi buntut-buntutnya kelak. Begitulah jodoh jawaban bagi pertanyaan “Kerasnya hidup itu yang seperti apa?”.
Bagi kamu yang harus merasakan broken home, menjadi anak dalam keluarga yang pincang, walaupun tercukupi materi, tetap kamu akan dihadapkan pada kerasnya hidup. kamu berdiri di antara angan-angan memiliki keluarga harmonis dan kenyataan yang menghampiri, pincang. dan itu sungguh keras bagi mereka yang menjalani.
Satu contoh lagi, yaitu masa di mana kamu dipaksa keadaan untuk menjadi tulang punggung keluarga. sedangkan di saat yang bersamaan kamu baru saja merencanakan membangun kehidupan impianmu sendiri. Keras bukan hidup ini?
Banyak hal, banyak jodoh jawaban untuk satu pertanyaan tentang kerasnya hidup. Takkan pernah habis selama Tuhan menghendaki. Itu mutlak kewenanganNYA.
Tapi satu hal yang aku pahami, bahwa kerasnya hidup itu hanya akan dialami oleh manusia-manusia yang rela berkorban diri, tenaga, waktu demi sesuatu hal yang lebih baik di masa depan. lebih baik bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang mereka cintai. Dan saya yakin, manusia-manusia kuat terlahir dari kehidupannya yang keras. kehidupan yang keras itu bukan melulu soal materi, uang. Tapi bagaimana manusia itu bergelut dengan rasa dan keadaan. Kerasnya hidup tak akan ditemui oleh golongan manusia yang betah berada di zona nyaman, memilih tidak keluar “rumah”, merasa cukup tinggal di dalam tempurung. dan tentunya mereka menganggap bahwa hidup itu datar, flat.***

No comments:
Post a Comment