16.4.10

menjelang keabadian

menjelang Keabadian betapa lebat hutan
menjelang keabadian
rimbanya kegelapan,
pepohonan menghadang,
sulur sulur menghisap darah,
tanah-tanah becek,
ranjau duri beracun,
bayangan demi bayangan menjebak,
suara nyanyian membawa kami ke pangasingan betapa berat,
wahai betapa bosan untuk terus bermusuhan,
membenar-benarkan peperangan, mengairi sawah prasangka,
mengurusi maniak kalah menang,
kawan lawan,
sukses dan kegagalan kujaga ubun-ubun,
kunyalakan jiwa ngungu,
sunyi riuh rendah,
hari malam tanpa istirah,
perih bagai tak lagi, pingsan dalam sadar diri,
mati berulangkali betapa lebat hutan,
o betapa lebat hutan
menjelang keabadian

1986
Quoted by Redaksi from "Cahaya Maha Cahaya",
Emha Ainun Nadjib, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996, cet. 8


kita, manusia tidak tahu kapan ajal kan menjemput. hanya menunggu giliran kapan takdir dipanggil oleh Dzat Pemilik Takdir sembari terus berusaha mengumpulkan dan menghimpun bekal yang akan dibawa.

ada tiga sahabat yang sangat disayang sehingga segera dipanggil oleh Sang Pemilik Hidup melalui malaikatnya. sahabat-sahabat ini pastinya sangat istimewa, sehingga dipanggil ketika masih di usia muda.

mas teguh (35th), baru sesaat menikmati kepindahan kerja dari ibukota ke kampung halaman dan seolah-olah memang ada rencana akan 'pulang'. meninggalkan dek iffa dan putrinya yang sangat cantik.

mbak wiwin (32th), sahabat, rekan sejawat. teman berbagi cerita. meninggalkan suami dan 2 anak balita.

ustad solehan (31th), ustad, marbot masjid al muhajirin, meninggalkan seorang istri yang baru dinikahinya 2 minggu yang lalu.

mari kita berdoa untuk 3 sahabat tadi. semoga mereka diampuni dosa-dosanya dan diterima di sisi Allah SWT. semoga bahagia selalu menyertainya, amin...

dan mari kita berlomba-lomba menghimpun bekal yang akan kita bawa kelak, karena kita tidak tahu kapan takdir kita akan datang...

No comments: