24.1.06

Rasulullah Hadir itu bukan hayal

Ketika kita bershalawat kepada Rasulullah maka pada majelis itu Rasulullah hadir. Dan barangsiapa yang berada di suatu tempat di mana Rasulullah hadir maka keseluruhan ruang tersebut bebas dari adzab. Orang barangkali tidak mempercayai kalau Rasulullah itu hadir dengan menganggap bahwa beliau sudah wafat. Benar bahwa beliau sudah wafat. Jasad atau badan-nya sudah pulang menyatu kembali dengan hakikatnya yakni tanah. Akan tetapi ruh atau ruhani Rasulullah tetap hidup dan hadir. Kita tidak bisa memandang Rasulullah dengan kaca mata materialisme bahwa segala sesuatu harus bisa dilihat dengan mata wadag ini, bahwa semuanya harus bisa dipancaindrai dan bahwa kalau segalanya tak bisa dipancraindrai maka sesuatu itu tak ada alias tak maujud, melainkan harus dengan kaca mata ruhaniah. Dengan demikian ketika kita mendengar kalimat bahwa Rasulullah hadir kita tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang hayal atau lain sebagainya.

Quoted from "Shalawat Cinta Segitiga", Emha Ainun Nadjib, Zaituna, Jogja, Cetakan I, 1998

No comments: