Oleh : M. Anis Matta
Tergagap aku. Itu kali pertama aku berdiri didepan makammu. Semua doanya
kuhafal. Tetap saja aku tergagap. Hanya butir-butir waktu seribu lima ratus
tahun yang terangkai-rangkai dalam untaian tali di pelataran kalbu. Sebab
serumulah yang membawaku kesini.
Berdirilah, saudaraku! Beri hormat pada lelaki ini. Berdirilah! Ucapkan
selawat untuknya. Dialah tuan seluruh anak cucu Adam. Dialah pemimpin semua
nabi dan rasul. Dialah yang hadir di penghujung sejarah Parsi dan Romawi,
waktu kedua imperium itu mendekati jurang. Dialah yang menyelamatkan umat
manusia dari kehancuran.
Dialah sang guru. Coba cari semua sisi kepahlawanan pada semua pahlawan yang
pernah mengisi ruang sejarah. Kumpulkan semuanya. Nanti kau temukan semua
itu dalam diri sang guru yang terbaring tenang di hadapanku ini : kebaikan
yang berserakan pada seluruh pahlawan menyatu ajek dalam dirinya sendiri.
Sendiri pada mulanya ia menyeru. Lalu ada lebih seratur ribu sahabat yang ia
tinggalkan saat wafat. Sendiri pada mulanya ia melawan. Lantas ada enam
puluh delapan pertempuran yang ia komandani. Tak punya apa-apa ia saat
lahir. Lalu ada kekuasaan yang meliputi seluruh jazirah Arab yang ia
wariskan saat wafat.
Tapi apa yang lebih agung dari itu adalah seruannya : sampai juga akhirnya
cahaya itu kepada kita. Sekarang ada lebih dari satu koma tiga milyar
manusia muslim yang menyebur namanya setiap saat. Seperti kakeknya, Ibrahim,
yang pernah berdoa : hadirkanlah segenap jiwa mukmun ke rumah-Mu ini ya
Allah! Seperti itu juga ia berseru : jumlahmu yang banyak itulah
kebanggaanku di hari kiamat.
Cintalah itu sebabnya. Ia mencintai semua manusia. Ia mau melakukan apapun
untuk menghadirkan damai, selamat, dan bahagia bagi manusia. Cintalah yang
membuatnya mampu menampung segala keluh dalam hatinya. Di hatinya yang
lapang kau boleh menumpahkan semua keluh dan harapanmu. Makin lama kau di
sisinya, makin dalam cintamu padanya. Waktulah yang membuka tabir
keagungannya satu-satu padamu.
Mungkin bukan itu benar yang membuatnya jadi teramat agung. Ada yang lebih
agung dari sekadar itu. Dia bukan hanya hebat. Bukan hanya pahlawan. Dia
juga melahirkan banyak pahlawan. Dia tidak hanya menjadi sesuatu. Dia juga
menjadikan orang lain di sekitarnya sesuatu. Orang lain hanya jadi pahlawan.
Orang-orang di sekelilingnya hanya mencatat kepahlawanannya. Mereka tidak
jadi apa-apa.
Bangkit di tengah orang-orang buta huruf, berserakan, nomaden, tidaklah
mudah meyakinkan mereka menerima cahaya yang ia bawa. Menyatukan mereka
apalagi. Menjadikan mereka pemimpin apa lagi. Tapi begitulah kejadiannya :
ia merakit kembali kepribadian mereka. Menyatukan mereka. Lalu jadilah para
penggembala kambing itu pemimpin-pemimpin dunia. Pada mulanya adalah embun.
Laut kemudian akhirnya. Dari embun ke laut : terbentang riwayat kepahlawanan
yang agung. Takkan terulang.
No comments:
Post a Comment