11.6.11

Long Distance Relationships? Siapa takut!

“Tahu tidak Mbak, kalau sekarang aku lebih mandiri, semua bisa aku kerjakan sendiri, bahkan sampai memilih dan beli cat tembok untuk rumah” cerita salah seorang temanku yang menjalani pernikahan jarak jauh. Karena tuntutan pekerjaan, suaminya hanya bisa seminggu sekali pulang ke rumah, selebihnya ngekos di kota tempat kerjanya.

Pas banget dengan bahasan Psikologi di harian (cetak) Kompas, Minggu, 5 Juni 2011. Berikut aku tuliskan petikannya.

Hubungan itu biasa disebut Perkawinan/pernikahan jarak jauh atau commuter marriage. Commuter marriage “Men and women in dual-career marriages who desire to stay married, but also voluntarily choose to pursue careers to which they feel a strong commitment. They establish separate homes so they can do so.” (Rhodes, 2002). Atau A long-distance relationship (LDR) is typically an intimate relationship that takes place when the partners are separated by a considerable distance.

Menurut Davidson dan Moore (1996), pernikahan jarak jauh adalah suatu pernikahan dual-karier dimana pasangan pernikahan mempertahankan tempat tinggal yang terpisah dalam rangka mengakomodasi tuntutan kerja masing-masing pihak.

Pengertian secara budaya mengenai pernikahan melibatkan konsep bahwa suami dan istri seyogyanya hidup bersama di bawah satu atap. Jadi, keluarga dan teman sering merasa sulit memahami atau menerima keputusan pasangan untuk hidup terpisah karena tuntutan karier. Mereka memandang hal ini sebagai gaya hidup yang rumit. Pasangan pernikahan semacam ini biasanya memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi, punya pekerjaan mantap serta punya penghasilan keluarga di atas rata-rata pasangan yang lain.

Masih dari Davidson dan Moore (1996) memberikan kesimpulan berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan. Keuntungan menjalani pernikahan ini diantaranya adalah:

  • Adanya kebebasan yang nyata dari gaya hidup seperti ini memungkinkan setiap pasangan untuk mengejar tujuan kariernya dan mengabdikan diri sepenuhnya pada waktu kerja yang panjang tanpa gangguan. Sebagian besar pasangan menceritakan bahwa mereka lebih mudah menyelesaikan pekerjaan dan mencapai kebutuhannya dalam mencapai karier. Kesempatan untuk peningkatan karier menjadi lebih besar karena berkurangnya tekanan keluarga sehari-hari dan kemampuan untuk fokus pada pekerjaan tidak terganggu oleh waktu, termasuk malam hari dan akhir pekan.
  • Tiap pasangan memiliki peluang lebih besar untuk memilah pekerjaan dan peran keluarga karena mereka bekerja di lokasi yang terpisah dari pasangan.
Namun, selain keuntungan, ada juga kerugiannya:
  • Pasangan mungkin mengalami perasaan terasing dan mengembangkan kecenderungan kuat untuk menjasi pecandu kerja (workaholic). Pada kenyataannya, banyak pasangan sering terlibat ke dalam hari kerja yang panjang untuk mengisi waktu mereka. Beberapa orang yang lain mungkin saja awalnya sering menghabiskan waktu secara tidak efisien dan tidak mampu berkonsentrasi dalam lingkup kerjanya.
  • Biaya hidup bagi pasangan semacam ini biasanya sangat mahal karena mereka harus membiayai dua rumah tangga yang terpisah. Keadaan ini akan lebih terasa bila masa pernikahan sudah cukup panjang dan telah lahir anak-anak dalam pernikahan.
Pernikahan jarak jauh mungkin hanya mengalami stres minimal bila pasangan memiliki komitmen karir yang kuat, baik bagi dirinya dan bagi pasangannya. Ketersediaan sumber keuangan yang memadai pembiayaan dua rumah tangga dan pemantapan pola komunikasi yang efektif akan berfungsi untuk mengurangi stres.

Keberhasilan penyesuaian bergantung pada seberapa sering pasangan berjumpa satu sama lain, lamanya waktu mereka telah menikah, jumlah anak yang mereka miliki, sikap atasan mereka di tempat kerja, fleksibilitas kerja, dan kemampuan mengatasi masalah dari setiap pasangan. Mereka juga cenderung lebih sedikit mempunyai anak yang bergantung.

Bagi pasangan muda yang masih perlu lebih banyak waktu untuk saling menyesuaikan, mungkin ada konflik lebih lanjut mengenai karier siapa yang harus dipertahankan dan dikalahkan agar bisa tinggal satu atap.

Kebanyakan orang berasumsi bahwa pasangan pernikahan jarak jauh memiliki pernikahan yang lemah, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Mereka justru lebih sering mengupayakan lebih banyak waktu, uang dan usaha untuk kehidupan pernikahannya.

Pernikahan semacam ini sebenarnya memungkinkan pasangan untuk mengevaluasi kembali pernikahan mereka dan untuk mepertimbangkan perubahan yang sesuai dalam hubungan pernikahan yang mungkin perlu dilaksanakan setelah bersatu kembali.

Berlawanan dengan pendapat umum, pernikahan semacam ini tampaknya kurang mungkin berakhir dengan perceraian karena pasangan lebih berkomitmen untuk pernikahan mereka, jika tidak mereka tidak akan repot-repot dengan uapya tambahan yang dibutuhkan untuk mepertahankannya.

Menurut Kantrowitz (1985), jika pernikahan tersebut memang sudah lemah, mungkin mereka akan gagal.

Menurut Tina Tessina, seorang terapis di California dan penulis buku tentang hal yang sama (2008) “ menghabiskan waktu terpisah sebagai pasangan adalah suatu berkah dan sekaligus masalah. Bila memiliki kesempatan untuk hidup terpisah, hal itu dapat menyegarkan hubungan dan mengingatkan tentang apa yang paling dicintai tentang pasangan. Di sisi lain, jika mulai membenci perpisahan dan tidak berkomunikasi dengan baik saat sedang terpisah, maka pernikahan ini memiliki potensi untuk teruai.

Jadi, apapun dan bagaimanapun bentuk hubungan pernikahan tergantung dari komitmen masing-masing pasangan akan dibawa kemana pernikahannya tersebut. Kalau memang mereka menikmatinya kenapa harus dipaksakan tinggal satu atap. Mereka pasti sudah memikirkan masak-masak (bahakan mungkin pakai analisis SWOT) tentang kelebihan dan kelemahnnya.

-------
*Long Distance Relationships? Siapa takut! Tidak...! Penulis sangat tidak siap dan tidak mau LDR/Commuter marriage, maaf :)

Referensi:

Gambar diambil dari sini dan sini

1 comment:

Blogger said...

Did you know that that you can earn dollars by locking special areas of your blog or site?
Simply open an account on CPALead and implement their Content Locking tool.