17.12.10

The Pursuit of Happyness

Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan menentukan sumbernya (Wikipedia)

Kata siapa bahagia tidak butuh uang. Bagaimanapun uang sangat dibutuhkan untuk mencapai kebahagaiaan itu. Ketidakpunyaan uang menyebabkan potensi ketidakbahagiaan. Meskipun begitu, kebahagiaan tidak bisa diukur hanya dengan indikator uang.

"Kemiskinan dekat dengan kekafiran" sangat ada benarnya. Di saat kondisi ekonomi sangat menurun, sementara tuntutan hidup makin meninggi, bisa membuat orang menjadi kalap untuk memenuhi kebutuhannya, meski harus melakukan tindak kriminal bahkan sampai menukar keyakinan dan keimanannya.

Berlaku untuk kita yang hidup di peradaban ini. Dikecualikan mungkin untuk mereka yang tinggal di pedalaman, yang masih primitif, yang hanya sekadar untuk bertahan hidup, yang tentu saja tidak mengenal uang.

Seperti yang diceritakan di film The Pursuit of Happyness yang diperankan oleh Will Smith, betapa kebahagiaan itu sangat terkait dengan pemilikan uang.

Sebuah film yang diilhami oleh kisah nyata. Kisah perjalanan hidup seorang ayah dan anaknya dalam menempuh pahit getirnya kehidupan. Kisah kehidupan sebenarnya seorang Christopher Gardner, seorang tuna wisma, seorang ayah yang berjuang dalam hidup bersama anaknya hingga berhasil menjadi milyader dan CEO sebuah perusahaan sekuritas ternama di Amerika yaitu Christopher Gardner International Holdings dengan kantor yang kini tersebar di New York, Chicago, and San Francisco.

Awal mulanya diceritakan, Christopher Gardner dengan latar belakang seorang sales, memberanikan diri untuk mengambil sebuah tawaran untuk menjadi distributor sebuah alat kedokteran yang baru dan canggih, alat pemindai tulang (scanner kepadatan tulang, seperti X-Ray). Dia menggunakan hampir seluruh tabungannya dan istrinya untuk membeli stok persediaan alat pemindai tersebut agar dapat memiliki wilayah eksklusif pemasaran di kotanya.

Setelah coba dipasarkan ternyata alat ini tidak laku karena harganya mahal dan menurut kebanyakan dokter, alat itu belum terlalu dibutuhkan. Presentasi demi presentasi ke setiap dokter yang ada di wilayahnya dilakukan. Kehadiran seorang anak dan biaya hidup yang terus berjalan membuat Chris mulai kesulitan dalam keuangan. Istrinya harus bekerja 14 jam sehari di tempat laundry demi membantu membiayai biaya hidup keluarga. Anaknya dititipkan di sebuah tempat penitipan anak yang murah dari pagi dan sorenya dijemput oleh Chris saat selesai dari kunjungan ke dokter. Di tempat inilah, muncul misspelling kata happiness yang seharusnya memang ditulis happiness dan bukan happyness seperti yang tertulis di papan tempat penitipan anak milik orang Cina itu.

Sudah berbagai cara dilakukan oleh Chris agar alat-alat pemindainya itu laku. Namun, belum ada yang berhasil, sementara kebutuhan hidup semakin menuntut untut dipenuhi.

Ada benarnya juga, bahwa permasalahan ekonomi bisa menyebabkan hubungan suami-sitri menjadi renggang. Tidak tahan dengan kondisi tersebut, Linda memutuskan untuk meninggalkan Chris dan pergi ke New York untuk bekerja di restoran pacar adiknya. Chris bersikukuh bahwa anak semata wayangnya, Christopher, harus tinggal dengannya karena dia tidak mau anaknya bernasib sama dengan dirinya yang tidak mengenal sosok ayah.

Nah, disinilah kisah menarik itu bermula, dimana Chris diusir dari motelnya karena tidak dapat membayar uang sewa sampai harus menginap di sebuah kamar mandi di stasiun. Karena tidak memilki uang, hari-hari berikutnya dilalui dengan tiap sore mengantri di suatu gereja untuk mendapatkan sebuah kamar penampungan [agar anaknya bisa tidur di tempat yang layak] hanya untuk semalam. Untuk malam berikutnya dia harus mengantri lagi di hari yang sama. Hidupnya semakin susah, berpindah dari satu kemalangan ke kemalangan dan kesialan berikutnya. Ketulo-tulo. Penderitaan terus saja mengikutinya. Ada saja kejadian buruk yang semakin menjauhkan dari nasib baiknya.

Sesaat setelah melakukan presentasi alat pemindainya di suatu praktek dokter, dia berhenti di depan suatu gedung tinggi. Dia bertemu dengan seseorang yang memarkirkan Ferrari merahnya dan tampak sangat sukses. Keinginannya untuk sukses membuat dia memberanikan diri untuk bertanya “Apa pekerjaan Anda sehingga bisa memiliki mobil Ferrari yang cantik ini?” Orang tersebut menjawab “Saya seorang Pialang Saham”. Dia melihat semua orang yang keluar masuk gedung itu terlihat bahagia dengan senyum dan tawanya.

Dari sana timbul impian. Dia melamar di sebuah perusahaan sekuritas untuk menjadi seorang pialang saham. Perusahaan tersebut menawarkan pendidikan selama 6 bulan untuk bisa menjadi calon Pialang Saham. Tanpa gaji. Setelah 6 bulan pendidikan, perusahaan hanya memilih 1 dari 30 orang peserta untuk diterima menjadi pialang saham.

Awalnya dia ragu dengan pilihannya itu, apakah mau menerima tawaran magang atau tidak, karena menjadi peserta magang tidak mendapatkan gaji, sementara dia dan anaknya sangat membutuhkan uang.

Demi impian barunya tersebut, Chris rela melewati proses pendidikan dan seleksi yang berat. Dia harus bisa mengatur dan menghadapi banyak kesulitan antara belajar menjadi pialang saham, mengantar dan menjemput anaknya di tempat penitipan anak, antri di sore hari di tempat penampungan tuna wisma, sering tidak makan agar menghemat uang yang tinggal sedikit dan masih harus mencari calon pelanggan untuk perusahaan pialang saham.
Setelah melalui 6 bulan perjuangan dan semua kesulitan yang harus dihadapi, Chris terpilih untuk menjadi pialang saham dan memulai karirnya di industri itu. Chris Gardner akhirnya menjadi seorang pialang saham yang sukses, yang kemudian mendirikan perusahaan pialang sendiri dan menjadi milyader yang dermawan dalam membantu menyediakan tempat penampungan bagi para tuna wisma, mengingat dia pernah mengalami hal tersebut.



Salah satu akting Will Smith yang paling bagus di film ini adalah saat Chris diberitahu bahwa di merupakan satu-satunya orang yang diterima di perusahaan sekuritas tersebut dari 30 orang yang mengikuti magang. Mimiknya, raut mukanya, gesturenya, matanya yang berkaca-kaca semua sangat pas menggambarkan suatu pencapaian dari semua usaha yang telah dilakukan sebelumnya.

Satu lagi, akting Jadden Smith [yang tak lain adalah anak kandung Will Smith] yang memerankan Christopher juga sangat bagus. Sangat natural. Tak heranlah, buah apel tak jatuh jauh dari pohonnya :)

Namun, klimaks dari film ini, tentang bagaimana Chris setelah berhasil, tidak diceritakan secara lengkap, [hanya ditulis bahwa Chris sekarang adalah seorang milyader yang memiliki perusahaan sekuritas terbesar di New York] seolah-olah menjadi tidak sebanding dengan penderitaanya sebelumnya. ah...ini mah hanya keinginanku saja :D

Film yang mengambil latar kota San Francisco pada tahun 1981 ini bukanlah film drama yang penuh cerita menyedihan melainkan sebuah film perjuangan seorang ayah yang mencintai dan harus membesarkan anaknya yang masih kecil dalam kondisi tidak punya uang, tidak punya rumah dan tidak punya pekerjaan.


Betapa kuat keinginan untuk meberikan kebahagiaan terbaik untuk anaknya dengan kondisi yang ada. Sangat mengharukan, dimana saat adegan Chris dan anaknya harus hidup homeless dan terpaksa tidur di kamar mandi umum. Dengan air mata berlinang sambil menatap dan mendekap anaknya agar tetap tidur dengan nyenyak. Dengan rasa kekahawatiran yang tinggi, dia mengunci kamar mandi tersebut agar terhindar dari petugas yang sedang memeriksa. Anaknya sudah kelelahan dan bila diusir dia tidak tahu harus tidur dimana.

Adegan saat anaknya sangat kelelahan karena harus mengikuti Chris ke sana kemari sampai harus ikut mengantri di gereja untuk mendapatkan sebuah kamar.
"Kita kemana lagi Yah?, aku sangat lelah" [membayangkan raya mengatakan ini]
Setelah alat pemindainya yang terakhir laku, Chris mengajak anaknya untuk menginap di hotel satu malam untuk menebus kelelahan anaknya di hari sebelumnya.

Sumber bacaan di sini, sini dan sini

Sumber gambar di sini

No comments: