Menjelang Keabadian betapa lebat hutan
menjelang keabadian
rimbanya kegelapan,
pepohonan menghadang,
sulur sulur menghisap darah,
tanah-tanah becek,
ranjau duri beracun,
bayangan demi bayangan menjebak,
suara nyanyian membawa kami ke pangasingan betapa berat,
wahai betapa bosan untuk terusbermusuhan,
membenar-benarkan peperangan, mengairi sawah prasangka,
mengurusi maniak kalah menang,
kawan lawan,
sukses dan kegagalan kujaga ubun-ubun,
kunyalakan jiwa ngungu,
sunyi riuh rendah,
hari malam tanpa istirah,
perihbagai tak lagi, pingsan dalam sadar diri,
mati berulangkalil betapa lebat hutan,
o betapa lebat hutan
menjelang keabadian
1986
Quoted by Redaksi from "Cahaya Maha Cahaya",
Emha Ainun Nadjib, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996, cet. 8
1 comment:
Nis....piye kabare....lama gak kabar2i.
Kapan pulang Jogja??
Kabar mb lia,mb wiwin, n konco2 lain gimana??
Post a Comment